Perbedaan pendapat (ikhtilāf) dalam masalah ijtihadiyyah adalah keniscayaan dalam khazanah keilmuan Islam. Ia merupakan bukti keluasan syariat dan kedalaman pemahaman para ulama. Namun, yang tak kalah penting dari mengetahui perbedaan adalah bagaimana kita bersikap terhadapnya. Para ulama salaf telah menunjukkan adab yang tinggi dalam menyikapi perbedaan, yang sepatutnya menjadi teladan bagi generasi setelah mereka.
قَالَ قَتَادَةُ:
"مَنْ لَمْ يَعْرِفِ الاخْتِلَافَ، لَمْ يُشَمِّمْ أَنْفُهُ الْفِقْهَ"
"Barangsiapa yang tidak mengetahui perbedaan pendapat, maka dia tidak akan mencium wangi ilmu fiqih."
وَعَنْ هِشَامِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ الرَّازِيِّ:
"مَنْ لَمْ يَعْرِفِ اخْتِلَافَ الْقُرَّاءِ، فَلَيْسَ بِقَارِئٍ، وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ اخْتِلَافَ الْفُقَهَاءِ، فَلَيْسَ بِفَقِيهٍ"
"Barangsiapa yang tidak mengetahui perbedaan para qari, maka dia bukan qari. Dan barangsiapa yang tidak mengetahui perbedaan para fuqaha, maka dia bukanlah ahli fiqih."
Teladan Sikap Ulama terhadap Perbedaan
1. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik
Imam Abu Hanifah pernah mendengar bahwa Imam Malik tidak memakai qiyas dalam beberapa masalah. Padahal, Abu Hanifah sangat menekankan qiyas. Namun, saat ditanya tentang Imam Malik, beliau menjawab:
"مالكٌ أستاذنا وشيخنا، نأخذ منه وندعو له."
"Malik adalah guru dan syaikh kami, kami mengambil ilmunya dan mendoakannya."
Tidak ada celaan. Hanya penghormatan.
2. Imam Syafi‘i dan Imam Abu Hanifah
Imam asy-Syafi‘i dikenal sering berbeda pendapat dengan Imam Abu Hanifah dalam banyak masalah. Namun, ketika beliau mendatangi makam Abu Hanifah di Baghdad, beliau tidak shalat dengan doa qunut subuh sebagaimana biasanya, sebagai bentuk penghormatan terhadap pendapat Abu Hanifah yang tidak mensunnahkan qunut.
Ini menunjukkan sikap luar biasa:
"أحبُّ الصلاحَ، ولا أحبُّ الخلافَ."
"Aku mencintai kebaikan, dan aku tidak menyukai perpecahan."
3. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah
Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berbeda pendapat dalam beberapa cabang fiqih. Namun Ishaq berkata:
"إمامٌ لا يُجارى في الفقه، أفقهُ أهل زمانه."
"Imam Ahmad adalah imam yang tidak tertandingi dalam fiqih, dia yang paling faqih di zamannya."
Dan Imam Ahmad tidak pernah menyebut nama Ishaq kecuali dengan doa dan penghormatan.
4. Imam al-Laits bin Sa‘d dan Imam Malik
Suatu ketika Imam Malik menulis surat kepada Imam al-Laits bin Sa‘d yang berbeda pandangan dengannya:
"قد بلغني عنك أنك تفتي بخلاف مذهبي، وإني والله لا أرى الحق إلا معك في كثير من ذلك."
"Telah sampai kepadaku bahwa engkau berfatwa berbeda dengan madzhabku, dan demi Allah, aku melihat kebenaran sering kali bersamamu dalam hal itu."
Subhanallah! Betapa lapang dada mereka terhadap perbedaan pendapat.
Sikap Para Ulama dalam Menyikapi Ikhtilaf
-
Tidak Fanatik terhadap Mazhab Sendiri
ابْنُ قَيِّمٍ الجَوْزِيَّةِ:
"التَّعَصُّبُ لِلْمَذَاهِبِ مِنْ أَعْظَمِ الفِتَنِ، وَهُوَ سَبَبُ التَّفَرُّقِ."
"Fanatisme mazhab adalah salah satu fitnah terbesar dan penyebab perpecahan."
-
Menghormati Pendapat Ulama Lain
الإِمَامُ النَّوَوِيُّ:
"لَا يُنْكَرُ فِي مَسَائِلِ الِاجْتِهَادِ."
"Tidak boleh saling mengingkari dalam masalah ijtihad."
(al-Majmū‘)
-
Mengutamakan Persatuan dan Ukhuwah
"الِاخْتِلَافُ فِي الرَّأْيِ لَا يُفْسِدُ لِلْوُدِّ قَضِيَّةً."
“Perbedaan pendapat tidak merusak kasih sayang di antara kita.”
Khatimah
Perbedaan adalah bagian dari kekayaan intelektual dalam Islam. Para ulama salaf telah memberi kita pelajaran tentang keikhlasan dalam mencari kebenaran, serta kebesaran hati dalam menerima perbedaan. Mereka tidak menjadikan ikhtilaf sebagai ajang permusuhan, melainkan sarana memperluas ilmu dan menumbuhkan adab.
Mari kita warisi adab mereka.
"من عرف الخلاف، عرف الرحمة."
"Siapa yang mengenal perbedaan pendapat, maka ia akan mengenal rahmat."
Dapatkan buku Fiqih Ikhtilaf via Wa Only ; 085730464407

.jpeg)
Posting Komentar
0Komentar