Runtuhnya Khilafah Utsmani pada tahun 1924 bukan sekadar peristiwa politik biasa. Ia menandai robohnya sebuah peradaban agung yang selama berabad-abad menjadi pelindung, pemersatu, dan penjaga nilai-nilai Islam di dunia. Sejak saat itu, umat Islam seakan kehilangan payung besar yang menaungi kehidupan politik, sosial, dan peradabannya.
Sebagian pengamat bahkan menyebut kondisi dunia saat ini sebagai garbage civilization—peradaban sampah. Sebuah istilah yang terasa keras, tetapi jika dicermati lebih dalam, tidak sepenuhnya berlebihan. Kita hidup di zaman ketika nilai-nilai kebaikan, kemanusiaan, dan keadilan sering kali dikesampingkan demi kepentingan kekuasaan dan materi.
Pergiliran Peradaban dalam Sunnatullah
Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa peradaban tidak bersifat abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman :
....Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan Allah mengetahui orang-orang beriman... ( QS. Ali Imron ayat 140)
Bahwa hari-hari kejayaan itu dipergilirkan di antara manusia. Peradaban yang kuat akan mengungguli peradaban yang lemah, dan yang lemah akan tersingkir.
Pertanyaannya, apa yang membuat sebuah peradaban menjadi kuat atau lemah?
Jawabannya tidak lain adalah para penopang peradaban itu sendiri, yakni umatnya. Dalam konteks peradaban Islam, penopang utamanya adalah umat Islam. Maka, ketika peradaban Islam runtuh, faktor internal umat tidak bisa dilepaskan dari sebab-sebabnya, meskipun faktor eksternal juga berperan besar.
Faktor Internal dan Eksternal Keruntuhan
Keruntuhan peradaban Islam terjadi akibat perpaduan antara faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal berupa ancaman, tantangan, dan serangan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan Islam tegak sebagai peradaban. Sejak masa Nabi Muhammad ﷺ hingga hari ini, penentangan terhadap Islam tidak pernah benar-benar berhenti.
Sebagaimana yang disampaikan dalam Al Qur'an
Alloh Taala berfirman :
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّـهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّـهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS : Al Baqarah : 120)
Yang menarik, penentangan itu sering datang dari orang-orang yang bahkan tidak pernah bersentuhan langsung dengan Rasulullah ﷺ, baik secara zaman maupun tempat. Contohnya, penghinaan terhadap Nabi melalui media di Eropa modern, seperti yang dilakukan sebagian media di Denmark dan Prancis. Ini menunjukkan bahwa kebencian terhadap Islam bersifat ideologis, bukan personal.
Al-Qur’an telah mengisyaratkan bahwa sebagian pihak tidak akan rela hingga umat Islam mengikuti millah (jalan hidup) mereka—menyamakan cara pandang, nilai, dan gaya hidup. Jika umat Islam tidak bisa dikeluarkan dari agamanya, maka minimal dibuat agar hidup dan berpikir sama seperti mereka.
Pemurtadan dan Penyeragaman Gaya Hidup
Upaya pemurtadan dan penyeragaman gaya hidup umat Islam merupakan bagian dari tekanan eksternal tersebut. Ketika umat Islam masih salat dan mengaku beriman, namun dalam politik menganut sekularisme, dalam ekonomi menganut kapitalisme, dan dalam hiburan mengikuti budaya hedonis, maka peradaban hakiki dengan peradaban lain semakin kabur.
Agama akhirnya tereduksi menjadi sekadar ritual pribadi, bukan sistem hidup. Inilah kondisi yang menjadikan umat Islam lemah secara peradaban, meskipun jumlahnya besar.
Serangan Sistematis terhadap Khilafah
Serangan terhadap Khilafah Utsmani tidak terjadi dalam semalam. Ia berlangsung secara sistematis dan panjang, bahkan selama lebih dari satu abad. Wilayah-wilayah Khilafah dipecah, umat Islam diadu domba, dan ditanamkan pemahaman bahwa Turki Utsmani adalah penjajah.
Di Jazirah Arab dan wilayah-wilayah lain, propaganda ini berhasil melahirkan pemberontakan dan gerakan separatis. Puncaknya adalah lahirnya negara-negara bangsa (nation-state) di dunia Islam—sebuah fenomena baru yang sebelumnya tidak dikenal dalam sejarah Islam.
Perjanjian Sykes–Picot tahun 1916 menjadi salah satu tonggak pembelahan wilayah bekas Khilafah. Palestina kemudian berada di bawah mandat Inggris, yang membuka jalan bagi Deklarasi Balfour dan proyek pendirian negara Zionis Israel. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa terlebih dahulu meruntuhkan Khilafah sebagai pelindung umat Islam.
Krisis Kepemimpinan dan Dampaknya Hari Ini
Hilangnya Khilafah berarti hilangnya pelindung dunia Islam. Sudah lebih dari satu abad umat Islam hidup tanpa payung politik yang menyatukan mereka. Dampaknya sangat nyata hari ini, salah satunya terlihat jelas dalam tragedi Gaza.
Kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Gaza berlangsung di depan mata dunia, namun dunia memilih diam. Ratusan ribu warga terancam kelaparan, bantuan kemanusiaan terhambat, dan pintu Rafah tidak bisa dibuka tanpa izin kekuatan besar dunia. Ini menunjukkan betapa lemahnya posisi umat Islam secara politik global.
Refleksi Peradaban
Runtuhnya Khilafah Utsmani adalah runtuhnya sebuah peradaban besar. Yang tersisa hari ini adalah peradaban yang sering kali mengabaikan nilai-nilai kebaikan dan keadilan. Tragedi demi tragedi kemanusiaan menjadi bukti nyata krisis tersebut.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya siapa yang harus disalahkan, tetapi ke mana arah kebangkitan umat Islam ke depan. Sejarah telah memberi pelajaran bahwa peradaban tidak akan tegak tanpa kesadaran, persatuan, dan kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai Islam.


Posting Komentar
0Komentar