Dalam Kitab Al-Bahrul Muhith karya Imam Abu Hayyan—sebuah kitab tafsir yang sangat kaya analisis bahasa—disebutkan sebuah penjelasan menarik tentang kebahagiaan Nabi Adam ‘alaihis salam.
Disebutkan:
لَقَدْ سَعِدَ آدَمُ بِخَمْسَةِ أَشْيَاءَ
Kata laqad berfungsi sebagai penegasan, artinya “sungguh”. Sa‘ida berarti telah berbahagia. Ādamu adalah fa’il (pelaku), yakni Nabi Adam. Bikhamsati asyyaa’a artinya “dengan lima perkara”.
Jadi maknanya:
Sungguh Nabi Adam telah berbahagia dengan lima perkara.
Imam Abu Hayyan menjelaskan bahwa lima hal ini bukan hanya milik Nabi Adam. Siapa saja yang memilikinya, ia pun pantas meraih kebahagiaan.
1. Mengakui Dosa (أَقَرَّ بِذَنْبِهِ)
Di sini terdapat pembahasan penting terkait makna bahasa.
Sebagian orang menerjemahkan ‘arafa bidzanbi dengan “mengetahui dosa” atau “mengenal dosa”. Terjemahan ini kurang tepat.
Dalam kaidah bahasa Arab, kata ‘arafa jika disertai huruf bi tidak lagi bermakna “mengetahui”, tetapi bermakna mengakui.
Jika tanpa “bi”, maknanya memang mengetahui atau mengenal. Dari sini muncul kata ta‘āruf (saling mengenal). Namun ketika ditambahkan huruf bi, maknanya berubah menjadi pengakuan.
Contoh dalam Al-Qur’an terdapat dalam Surah Al-Mulk:
فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ
“Mereka mengakui dosa-dosa mereka.”
Kata i‘tiraf (pengakuan) juga berasal dari akar yang sama. Bahkan dalam syair terkenal Abu Nawas yang sering dibaca setelah shalat Jumat:
Ilahi lastu lil firdausi ahla
Wala aqwa ‘ala naril jahim
Itu adalah bentuk pengakuan, bukan sekadar pengetahuan.Demikian pula Nabi Adam. Beliau berkata:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
“Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri.”
Ini adalah pengakuan.Dan inilah sebab kebahagiaan pertama: berani mengakui kesalahan.
Banyak orang sulit melakukan ini. Ketika salah, ia mencari alasan, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan orang lain. Padahal kebahagiaan dimulai dari keberanian mengakui dosa.
2. Menyesali Kesalahan (النَّدَمُ)
Disebutkan bahwa Nabi Adam menyesali perbuatannya.
Dalam hadits disebutkan:
النَّدَمُ تَوْبَةٌ
“Penyesalan adalah taubat.”
Sebagaimana sabda lain:
الحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji itu adalah Arafah.”
Artinya inti haji adalah wukuf di Arafah. Demikian pula taubat, intinya adalah penyesalan.
Tanpa penyesalan, pengakuan hanyalah formalitas. Tetapi ketika hati benar-benar merasa bersalah, di situlah taubat mulai hidup.
3. Mencela Diri Sendiri, Bukan Orang Lain
Nabi Adam tidak menyalahkan Hawa. Tidak menyalahkan iblis. Tidak menyalahkan keadaan.
Beliau berkata:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
“Kami telah menzalimi diri kami sendiri.”
Ini pelajaran besar. Banyak orang ketika bersalah langsung mencari kambing hitam. Padahal kebahagiaan lahir ketika seseorang berani berkata:
“Kesalahan itu ada pada diri saya.”
Muhasabah adalah pintu kebangkitan.
4. Segera Bertaubat (سَارَعَ إِلَى التَّوْبَةِ)
Kata sāra‘a berarti bersegera. Ada yang menerjemahkannya dengan “berjalan”, padahal maknanya adalah “cepat-cepat melakukan sesuatu”.
Nabi Adam tidak menunda taubatnya. Tidak berkata: “Nanti saja.” Tidak menunggu waktu yang lebih baik.
Beliau segera kembali kepada Allah.
Menunda taubat adalah bentuk bahaya. Karena kita tidak tahu apakah umur masih panjang.
5. Tidak Putus Asa dari Rahmat Allah
Yang kelima:
وَلَمْ يَقْنَطْ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
Beliau tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Inilah keseimbangan yang indah. Mengakui dosa, menyesal, mencela diri, bersegera bertaubat — tetapi tidak tenggelam dalam keputusasaan. Putus asa adalah jebakan kedua setelah dosa.
Allah berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
Nabi Adam menunjukkan bahwa kesalahan bukan akhir segalanya. Yang penting adalah bagaimana menyikapinya.
Lima Sikap Saat Melakukan Kesalahan
Dari kisah Nabi Adam, kita belajar lima sikap ketika berbuat salah:
1. Mengakui kesalahan.
2. Menyesalinya dengan tulus.
3. Menyalahkan diri sendiri, bukan orang lain.
4. Segera bertaubat.
5. Tidak putus asa dari rahmat Allah.
Inilah lima sebab kebahagiaan. Bukan karena manusia tanpa dosa. Tetapi karena ia tahu bagaimana kembali kepada Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang jika salah, segera kembali, bukan malah membela kesalahan.



Posting Komentar
0Komentar