Pengertian Qowwam Menurut Ulama
Allah Ta’ala berfirman:
"الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ"
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka."
(QS. An-Nisa: 34)
Imam Al-Qurthubi menyebut qawwam sebagai pemimpin dan pengurus yang bertanggung jawab penuh atas orang yang berada di bawah tanggungannya. Imam Al-Alusi menyatakan bahwa qowwamah mencakup aspek pengayoman, tanggung jawab nafkah, pendidikan, serta kepemimpinan dalam agama.
1. Dorong Suami Menjadi Pemimpin dalam Agama
Suami yang qowwam bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga menjadi pemimpin dalam agama—mengajak keluarga kepada ketaatan.
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا"
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..."
(QS. At-Tahrim: 6)
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah bagi kepala rumah tangga agar mendidik dan membimbing keluarganya dalam perkara agama, salat, akhlak, dan menjauhi maksiat.
2. Bangun Komunikasi yang Menghargai Peran Suami
Menghargai keputusan dan peran suami sebagai pemimpin akan menumbuhkan kepercayaan dan mendorongnya untuk semakin bertanggung jawab.
"وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ"
"Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik."
(QS. An-Nisa: 19)
Dalam hadits juga disebutkan:
"لو كنت آمرا أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها، لما جعل الله له عليها من الحق."
"Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, tentu aku akan perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami atasnya."
(HR. Tirmidzi, no. 1159 – Hasan Sahih)
3. Berikan Kepercayaan dan Dukungan Moral
Suami membutuhkan dukungan moral agar mampu memikul beban kepemimpinan dengan tegar, terutama dalam menghadapi tekanan dunia luar.
"الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا"
"Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu bentuk dukungan istri adalah dengan doa dan semangat, sebagaimana dicontohkan oleh Khadijah radhiyallahu ‘anha saat Rasulullah merasa takut setelah menerima wahyu:
"Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau menyambung tali silaturahmi, berkata jujur, membantu orang lemah..."
(HR. Bukhari)
4. Jaga Peran Istri dalam Ketaatan dan Keteladanan
Istri yang taat akan menjadi penyejuk hati dan motivasi bagi suami untuk terus memimpin dengan baik.
"فَإِنَّ صَالِحَةً قَانِتَةٌ حَافِظَةٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ"
"Sebab itu wanita yang saleh adalah yang taat (kepada Allah dan suaminya), lagi memelihara diri ketika suami tidak ada, oleh karena Allah telah memeliharanya."
(QS. An-Nisa: 34)
Dalam hadits disebutkan:
"إذا صلت المرأة خمسها، وصامت شهرها، وحصنت فرجها، وأطاعت زوجها، قيل لها: ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت."
"Jika seorang wanita salat lima waktunya, puasa Ramadhannya, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu suka."
(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban – Shahih)
Penutup
Qowwam bukan sekadar status suami dalam rumah tangga, melainkan amanah besar yang harus ditopang dengan iman, ilmu, dan tanggung jawab. Peran istri sangat penting untuk membantu suami menjalankan qowwamah dengan bijak dan lembut. Dengan saling mendukung dalam kebaikan, rumah tangga akan menjadi tempat yang penuh sakinah, mawaddah, dan rahmah—serta jalan menuju surga bersama.


Posting Komentar
0Komentar