Bagaimana agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungan dan peka terhadap keadaan di sekitarnya? Pertanyaan ini sejatinya kembali kepada satu kesadaran penting: bahwa Allah ﷻ telah menganugerahkan kepada manusia pancaindra, dan sejak kecil anak perlu dilatih untuk menggunakan anugerah itu dengan benar.
Kepekaan bukanlah sesuatu yang muncul dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari latihan dan pembiasaan sejak usia dini. Karena itu, melatih kepekaan sejatinya bagian dari kedisiplinan dalam pendidikan anak.
Peringatan Imam al-Ghazali tentang Pendidikan Anak
Imam al-Ghazali رحمه الله memberikan peringatan yang sangat tajam terkait pendidikan anak dalam salah satu karya beliau. Beliau menyatakan bahwa apabila seorang anak dibiarkan dan diabaikan pada masa awal pertumbuhannya, maka dampaknya sangat besar terhadap pembentukan akhlaknya.
Fenomena ini sejatinya sangat relevan dengan kondisi hari ini, ketika muncul pandangan bahwa anak kecil sebaiknya “dibiarkan saja”, tidak perlu dikekang, bahkan tidak boleh sering dilarang. Pola pendidikan semacam ini, menurut Imam al-Ghazali, justru membawa dampak buruk.
Beliau menegaskan bahwa jika seorang anak dibiarkan pada awal masa pertumbuhannya tanpa arahan dan pembinaan, maka besar kemungkinan ia akan tumbuh dengan akhlak yang rusak. Anak tersebut berpotensi menjadi pembohong, pendengki, tukang adu domba, pencuri, dan berbagai perangai buruk lainnya.
Maka jangan heran jika hari ini kita menuai banyak anak-anak yang bermasalah. Semua itu bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan buah dari kelalaian orang tua pada masa emas pertumbuhan anak, yang sering disebut sebagai golden age.
Orang Tua sebagai Madrasah Pertama
Fenomena rusaknya akhlak anak sejatinya menunjukkan kegagalan peran orang tua sebagai *madrasah pertama*. Pendidikan di rumah menjadi fondasi utama sebelum pendidikan formal di luar.
Karena itulah, di awal pembahasan sering disampaikan ungkapan Sayidina Umar bin al-Khattab رضي الله عنه:
Tafaqquhu qabla an tasûdû
“Berfikihlah (pahamilah agama) sebelum kalian memimpin.”
Dalam konteks keluarga, ungkapan ini bahkan relevan jika diubah menjadi:
Tafaqquhu qabla az-zawâj — pahamilah agama sebelum menikah.
Namun bagaimana jika seseorang baru sadar setelah menikah? Jawabannya: tidak ada kata terlambat untuk belajar. Selama seseorang hidup, pintu belajar tetap terbuka. Memang tidak ada sekolah parenting formal bagi semua orang, tetapi justru itulah tantangannya: orang tua harus sadar dan mau belajar.
Jangan terlambat untuk sadar bahwa mendidik anak adalah amanah besar. Kesadaran ini menuntut adanya perencanaan, dimulai dari diri sendiri, pasangan, lalu anak-anak.
Tantangan Orang Tua di Masa Kini
Tantangan ini semakin berat bagi sebagian orang tua yang baru berhijrah di tengah perjalanan hidupnya. Mereka memiliki rekam jejak masa lalu yang telah disaksikan oleh anak-anak, sementara proses belajarnya sendiri masih tertatih-tatih. Kondisi inilah yang sering menimbulkan persoalan dalam keluarga jika tidak disikapi dengan bijak dan penuh kesadaran.
Namun apa pun kondisinya, tanggung jawab tetap ada. Yang dibutuhkan adalah kesungguhan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Melatih Kepekaan Anak melalui Pembiasaan
Lalu, bagaimana cara agar anak memiliki daya peka? Jawabannya adalah melalui pembiasaan sejak kecil, termasuk dengan melatih penggunaan pancaindra.
Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya banyak sekali objek pembelajaran yang mudah. Misalnya ketika bepergian bersama anak, kita melihat berbagai fenomena sosial: pengamen, pengemis, orang yang mabuk, atau berbagai kondisi kehidupan lainnya. Semua itu bisa dijadikan sarana pendidikan jika orang tua memiliki misi dakwah dan pendidikan dalam keluarganya.
Anak-anak secara fitrah tidak ingin menjadi seperti kondisi buruk yang mereka lihat. Dari situ, orang tua dapat membangkitkan kesadaran, menyampaikan hikmah, dan mengajak anak untuk merenung tanpa menghakimi. Setiap peristiwa yang dilihat bisa menjadi pelajaran hidup yang sederhana namun membekas.
Dengan cara ini, anak akan terbiasa peka terhadap keadaan sekitarnya. Kepekaan itu tidak datang secara tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui latihan yang terus-menerus sejak dini.
Penutup
Menumbuhkan kepekaan, kedisiplinan, dan akhlak pada anak akan terasa ringan jika dimulai sejak kecil. Ibarat menarik beban, ia tidak akan terasa berat jika dilakukan perlahan dan konsisten dari awal. Namun jika ditunda, maka upaya memperbaikinya akan terasa jauh lebih berat.
Karena itu, mendidik anak bukan soal menunggu sempurna, tetapi soal kesadaran untuk mulai, belajar, dan terus memperbaiki diri sebagai orang tua.
___________________
Catatan: Artikel diatas dikembangkan dari Chanel YouTube KH. Hafidz Abdurrahman Ma.


Posting Komentar
0Komentar