Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa historis yang diceritakan setiap tahun. Ia adalah perjalanan iman yang Allah hadiahkan kepada Rasulullah ﷺ di saat dakwah berada pada titik paling kritis. Ketika seluruh pintu bumi terasa tertutup, Allah justru membuka pintu langit.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa:
"Sesungguhnya pertolongan Allah datang sebanding dengan tingkat ujian. Semakin berat ujian seorang hamba, semakin dekat pula
pertolongan-Nya."
(Zādul Ma‘ād)
Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi setelah Rasulullah ﷺ melewati ‘Āmul Ḥuzn, tahun kesedihan. Dukungan manusia pupus, penolakan datang dari lebih dari lima puluh kabilah, dan bahkan di Thaif beliau dilukai. Namun justru pada saat itulah Allah memuliakan Nabi-Nya dengan perjalanan yang tidak pernah diberikan kepada manusia mana pun sebelumnya.
Seolah Allah menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh penerimaan manusia, melainkan oleh keteguhan iman dan ketaatan.
Imam al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:
"Bukanlah iman itu dengan angan-angan, tetapi dengan apa yang menetap di hati dan dibenarkan oleh amal."
Isra’ Mi’raj menjadi bukti bahwa iman Rasulullah ﷺ tidak goyah meski tekanan begitu berat. Bahkan, perintah shalat yang diterima di Sidratul Muntaha menjadi sumber kekuatan ruhiyah bagi beliau dan umatnya dalam menapaki jalan dakwah.
Imam Ibn Taymiyyah رحمه الله menegaskan:
"Shalat adalah penolong terbesar bagi orang-orang yang beriman dalam menghadapi kesulitan hidup."
(Majmū‘ al-Fatāwā)
Tidak berhenti pada penguatan iman personal, Isra’ Mi’raj juga membawa isyarat besar tentang arah peradaban. Singgahnya Rasulullah ﷺ di Masjidil Aqsha menunjukkan perpindahan amanah kepemimpinan umat manusia—dari Bani Israil kepada umat Islam sebagai khairu ummah.
Imam al-Qurthubi رحمه الله menjelaskan:
"Masjidil Aqsha adalah simbol warisan para nabi, dan shalat Nabi Muhammad ﷺ di sana merupakan isyarat bahwa risalah telah berpindah kepada umatnya."
Dan janji Allah itu pun segera terwujud. Orang-orang Yatsrib, yang secara politis tidak diperhitungkan, justru menjadi Anshar—penolong agama Allah. Inilah sunnatullah: pertolongan sering datang dari arah yang tidak disangka.
Imam asy-Syafi’i رحمه الله berkata:
"Barangsiapa ingin dunia dan akhirat, maka wajib baginya berilmu. Dan ilmu itu tidak akan lahir kecuali dari kesabaran."
Kesabaran Rasulullah ﷺ dalam fase Makkah, keteguhan beliau memegang wahyu, serta keistiqamahan dalam ibadah menjadi sebab dibukanya jalan kemenangan di Madinah.
Pelajaran Isra’ Mi’raj juga sangat relevan bagi keluarga Muslim hari ini. Dalam membangun keluarga pejuang, fondasinya bukan harta atau status, tetapi iman, shalat, dan keterikatan dengan Al-Qur’an.
Imam Malik رحمه الله pernah berkata:
"Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya."
Jika generasi awal Islam bangkit dengan iman, shalat, dan pengorbanan, maka keluarga Muslim hari ini pun tidak akan bangkit kecuali dengan fondasi yang sama.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa selama seorang hamba terus bersama Allah, maka Allah tidak akan meninggalkannya. Taufiq Allah akan mengalir kepada dirinya, anak-anaknya, dan keluarganya.
Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata:
"Antara kita dan mereka adalah shalat. Siapa yang menjaganya, maka ia telah menjaga agamanya."
Maka, mari jadikan Isra’ Mi’raj bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momentum untuk memperkuat iman, menegakkan shalat, dan menanamkan ruh perjuangan dalam keluarga kita.
Dari keluarga beriman akan lahir keluarga pejuang, dan dari keluarga pejuang akan tumbuh generasi pembawa kemenangan Islam.


Posting Komentar
0Komentar