Setiap anak memiliki fase dan kondisi yang berbeda-beda. Ada orang tua yang masih merencanakan kehadiran anak berikutnya, bahkan sejak dalam kandungan sudah mulai menyiapkan pendekatan pendidikan. Namun, ada pula yang anaknya sudah berada di jenjang SD, SMP, bahkan SMA. Tentu saja, perlakuan dan cara mendidik anak-anak tersebut tidak bisa disamakan.
Pendekatan pada anak yang masih dalam kandungan atau usia sangat dini relatif lebih mudah karena orang tua bisa membangun ikatan sejak awal. Berbeda dengan anak yang sudah lahir dan tumbuh, terutama pada rentang usia 0–6 tahun. Pada usia ini, ayah dan bunda perlu memahami bahwa anak sangat membutuhkan suasana yang menggembirakan.
Anak dan Kebutuhan Akan Perhatian
Pada usia dini, perilaku anak sering kali merupakan bentuk pencarian perhatian. Anak bisa melakukan hal-hal yang menurutnya akan membuat ayah atau ibunya memperhatikan dirinya. Sayangnya, perhatian yang didapat terkadang berupa kemarahan. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang normal pada anak.
Ketika anak tiba-tiba melempar benda atau berperilaku tidak sesuai, yang perlu dilakukan orang tua pertama kali adalah memahami apa yang kurang dari dirinya—apakah perhatian, waktu, atau kedekatan emosional. Anak tidak selalu perlu langsung dimarahi. Marah bisa saja dilakukan nanti, tetapi dengan nada yang datar dan tenang, sambil menjelaskan bahwa perbuatan tersebut tidak tepat. Anak tetap perlu tahu mana yang benar dan mana yang salah, namun tanpa menghilangkan rasa aman dan senangnya.
Menanamkan Kecintaan Mengaji Sejak Usia Dini
Memulai pendidikan agama, khususnya membaca Al-Qur’an, sangat baik dilakukan sejak usia dini. Pada fase ini, anak mulai dikenalkan huruf-huruf hijaiyah dan bacaan Al-Qur’an dengan pendekatan yang menyenangkan.
Ada banyak metode pembelajaran Al-Qur’an yang dikenal, seperti Iqra, Tilawati, Qiraati, Umi, dan lainnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, terutama bagi pemula. Tidak perlu memperdebatkan metode mana yang paling unggul, karena yang terpenting adalah menumbuhkan rasa senang pada anak.
Dalam praktik di lembaga pendidikan TK, metode Iqra sering digunakan karena relatif mudah untuk anak-anak. Pada usia PAUD, anak tidak terlalu banyak disalahkan ketika membaca. Pembenahan tajwid bisa dilakukan ketika anak sudah lebih besar, misalnya saat masuk SD. Yang terpenting pada usia dini adalah membuat anak merasa bahwa mengaji itu menyenangkan.
Hasilnya, banyak anak TK yang sudah lulus Iqra sehingga ketika masuk sekolah tahfiz, bacaan mereka sudah lancar dan guru hanya perlu memperbaiki tajwidnya. Ketika anak sudah senang, mereka akan dengan sendirinya meminta giliran mengaji tanpa perlu dipaksa atau ditarik-tarik.
Perbedaan Pendekatan Anak PAUD dan SD
Pendekatan pada anak PAUD tentu berbeda dengan anak SD. Pada anak PAUD, motivasi sederhana seperti naik halaman bacaan sudah cukup membuat mereka bersemangat. Sementara pada anak SD, tantangannya berbeda dan membutuhkan pendekatan yang lebih terstruktur.
Di sinilah pentingnya komunikasi antara orang tua dan sekolah. Jika anak bersekolah di lembaga tahfiz, orang tua perlu mendapatkan pesan khusus dari guru agar pembiasaan di rumah bisa selaras dengan di sekolah. Anak-anak pada umumnya memang lebih nurut kepada guru atau ustazah dibandingkan kepada orang tua, dan hal ini wajar.
Orang tua tidak perlu merasa tersinggung atau marah. Peran orang tua tetap sangat penting. Jika anak sulit murajaah atau membaca Al-Qur’an di rumah, maka pesan tersebut bisa disampaikan melalui guru agar dicari solusi bersama. Dengan begitu, masalahnya bisa dipahami dan ditangani secara bertahap.
Pendidikan Anak Butuh Proses dan Tahapan
Meskipun anak dijanjikan bahwa Al-Qur’an akan membawa kebaikan hidup dan memudahkan masa depan—baik di SMP, SMA, maupun seterusnya—tetap saja anak tidak bisa dipaksa secara instan. Pendidikan membutuhkan proses, kesabaran, dan tahapan yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
Dengan pendekatan yang tepat, suasana yang menyenangkan, serta kerja sama antara orang tua dan sekolah, insyaallah anak akan tumbuh dengan kecintaan pada Al-Qur’an dan proses belajar itu sendiri.


Posting Komentar
0Komentar