Oleh : Ustadz Ismail Yusanto
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Salah satu kaidah besar dalam Islam adalah bahwa seluruh perintah Allah ﷻ pasti mampu dilaksanakan oleh hamba-Nya. Tidak ada satu pun kewajiban dalam agama ini yang berada di luar batas kemampuan manusia.
Allah ﷻ berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini adalah jaminan ilahi. Artinya, ketika Allah memerintahkan sesuatu, maka secara fitrah manusia mampu melaksanakannya.
Syariat Itu Mudah, Bukan Memberatkan
Islam bukan agama yang mempersulit. Ketika kemampuan seseorang menurun, Allah ﷻ memberikan rukhsah (keringanan).
Contohnya dalam shalat:
* Pada dasarnya shalat dilakukan dengan berdiri.
* Jika tidak mampu, boleh duduk.
* Jika tidak mampu, boleh berbaring.
* Bahkan jika tak mampu bergerak, cukup dengan isyarat.
Begitu pula dalam puasa. Secara umum, puasa Ramadhan hanya menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga maghrib—sekitar belasan jam. Itu dalam batas kemampuan manusia normal.
Namun jika seseorang sakit atau sedang safar, Allah ﷻ memberikan keringanan:
فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Barangsiapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib mengganti) pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 184)
Bahkan Allah ﷻ menegaskan:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Dan juga:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dia tidak menjadikan kesulitan untuk kalian dalam agama.”
(QS. Al-Hajj: 78)
Maka jelas, agama ini bukan beban. Agama ini adalah rahmat.
Masalahnya Bukan Mampu atau Tidak, Tapi Mau atau Tidak
Jika semua kewajiban bisa dilaksanakan, lalu mengapa banyak yang meninggalkannya?
Jawabannya bukan pada kemampuan, melainkan pada kemauan.
* Zakat hanya 2,5%, namun terasa berat.
* Shalat lima waktu hanya beberapa menit, namun sering ditinggalkan.
* Puasa hanya sebulan, namun sebagian masih mengeluh.
Padahal, jika ada kemauan, yang berat terasa ringan. Sebaliknya, jika tidak ada kemauan, yang ringan terasa berat. Di sinilah letak ujian terbesar manusia. Puasa Melatih Kemauan untuk Taat
Ramadhan adalah madrasah kemauan.
Pada bulan biasa:
* Makan di siang hari itu halal.
* Minum di siang hari itu halal.
* Hubungan suami-istri di siang hari itu halal.
Namun di bulan Ramadhan, semua itu dilarang pada siang hari.
Ajaibnya, kita mampu meninggalkannya.
Artinya apa?
Kita sebenarnya mampu meninggalkan yang halal, apalagi yang haram.
Puasa membuktikan bahwa kita memiliki kemampuan untuk taat. Tinggal satu hal yang harus diperkuat: kemauan untuk taat.
Inilah Makna Takwa
Tujuan akhir puasa adalah takwa:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa bukan sekadar rasa takut. Takwa adalah kemauan kuat untuk taat kepada Allah dan meninggalkan larangan-Nya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Jika selama Ramadhan kita mampu:
* Menahan lapar,
* Menahan amarah,
* Menahan syahwat,
* Menahan lisan,
Maka setelah Ramadhan pun kita seharusnya mampu menjaga diri dari dosa.
Penutup: Bangun Kemauan Itu
Saudaraku,
Agama ini tidak berat Yang berat adalah hawa nafsu kita Yang sulit bukan perintah Allah, tetapi melawan keinginan diri.Mari kita tunaikan ibadah dengan penuh penghayatan. Mari jadikan puasa sebagai latihan serius membangun kemauan untuk taat. Semoga Allah ﷻ menerima puasa kita, menjadikannya jalan lahirnya takwa, dan menjadikan kita hamba-hamba yang ringan dalam ketaatan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.



Posting Komentar
0Komentar