Niat (an niyyah) memiliki kedudukan penting dalam ibadah menurut para ulama. Disamping kedudukan niat menjadi tolak ukur keihklasan suatu amal ibadah, niat juga untuk membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lain.
Saking pentingnya dan mulianya kedudukan niat , bahkan dikatakan dalam satu riwayat bahwa niat itu lebih mulia daripada amal. Sebagaimana hadits bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"نية المؤمن خير من عمل
"Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya,
Kedudukan Hadits
Terkait kedudukan hadits diatas , Imam As Sakhawi, nama lengkap Abu Al-Khair Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakr bin ‘Utsman As-Sakhawi, salah satu murid dari Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang pakar hadis terkemuka. Beliau mengatakan :
هو حديث. أخرجه العسكري في "الأمثال" والبيهقي في "شعب الإيمان" من حديث ثابت البناني عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "نية المؤمن أبلغ من عمله" وقال البيهقي عقبه: إن إسناده ضعيف، وأما ابن دحية، فقال: هذا الحديث لا يصح، وصنيع ناصر السنة البيهقي أولى، إذ للحديث شواهد.
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-‘Askari dalam Al-Amtsal dan Al-Baihaqi dalam Syu‘ab Al-Iman dari jalur Tsabit Al-Bunani, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Niat seorang mukmin lebih kuat daripada amalnya.’
Al-Baihaqi kemudian mengomentari bahwa sanad hadis ini lemah. Sedangkan Ibnu Dihyah menyatakan bahwa hadis ini tidak sahih. Namun, metode yang digunakan oleh Nashir As-Sunnah, yaitu Al-Baihaqi, lebih utama, karena hadis ini memiliki syawahid (hadis pendukung)."
Walaupun kedudukan hadits diatas statusnya dhoif ( lemah) namun menurut beliau memeliki Syawahid atau hadits pendukung dari sisi matannya. Sehingga status hadits ini menjadi Hasan.
Seperti hadits :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "نية المؤمن خير من عمله وعمل المنافق خير مننيته، وكل يعمل على نيته فإذا عمل المؤمن عملاً ثار في قلبه نور"
"Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya, dan niat seorang fajir (pendosa) lebih buruk daripada amalnya."
Dan hadits dari Abu Manshur Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaws dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:
نية المؤمن خير من عمله، وإن الله عز وجعل يعطي العبد على نيته ما لا يعطيه على عمله، وذلك أن النية لا رياء فيها والعمل يخالطه الرياء
"Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kepada seorang hamba berdasarkan niatnya sesuatu yang tidak Dia berikan berdasarkan amalnya. Hal ini karena niat tidak tercampur dengan riya, sedangkan amal bisa bercampur dengan riya."
As-Sakhawi menambahkan:
وهذه طرق فيها مقال، لكن يتأكد بعضها ببعض، ولا يبعد أن يرتقي بالنظر بمجموعها إلى الحسن.
"Sanad-sanad hadis ini memang diperselisihkan, tetapi saling menguatkan satu sama lain. Oleh karena itu, tidak mustahil jika dengan mempertimbangkan keseluruhannya, hadis ini dapat naik ke derajat hasan."
Makna Hadist Menurut ulama :
الحسن قال: "المؤمن تبلغ نيته وتضعف قوته، والمنافق تضعف نيته وتبلغ قوته
Al-Hasan berkata: "Seorang mukmin memiliki niat yang mencapai (pahala yang besar), tetapi kekuatannya lemah. Sedangkan seorang munafik, niatnya lemah tetapi kekuatannya besar."
Sa‘id bin Al-Musayyib rahimahullah, menyampaikan bahwa orang mukmin akan mendapatkan apa yang diniatkan;
من هم بصلاة أو صيام أو حج أو عمرة أو عمرة أو غزو فحيل بينه وبين ذلك بلغه الله ما نوى
"Barang siapa yang berniat untuk shalat, puasa, haji, umrah, atau jihad, tetapi terhalang dari melakukannya, maka Allah akan menyampaikannya sesuai dengan niatnya."
Dengan niat yang baik maka seseorang akan mendapat pahala niatnya walau dia terhalang untuk melakukan amal kebaikan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh sebagian ulama :
وقال بعضهم في حديث النبي صلى الله عليه وسلم: "من نوى حسنة فلم يعملها كتبت له حسنة فإن عملها كتبت له عشر حسنات
"Barang siapa berniat melakukan suatu kebaikan tetapi tidak mengerjakannya, maka tetap dicatat baginya satu kebaikan. Jika ia melakukannya, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan."
Sumber : di ringkas dari Maktabah syamilah:
https://alsunniah.com/book/1066/92#page=346


Posting Komentar
0Komentar