Sumber : kitab mukasyafatul Qulub Li Imam Ghozali
Dikisahkan ada seorang laki-laki yang hatinya begitu terpaut pada seorang wanita. Ia sangat mencintainya hingga keinginan terhadapnya menguasai hatinya.
Suatu hari, wanita itu keluar untuk suatu keperluan, dan laki-laki tersebut mengikutinya. Ketika mereka sampai di padang pasir, dan semua orang di sekitar mereka tertidur, ia melihat ini sebagai kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya. Ia mendekati wanita itu dan menyampaikan keinginannya.
Wanita itu tidak langsung menjawab, tetapi berkata kepadanya,
انظر أنام الناس بأجمعهم
"Lihatlah, apakah semua orang benar-benar telah tertidur?"
Laki-laki itu merasa gembira dengan perkataannya, karena ia mengira bahwa wanita itu telah menerima ajakannya. Ia pun berdiri dan berjalan mengelilingi kafilah untuk memastikan bahwa semua orang telah tertidur. Setelah yakin bahwa tidak ada seorang pun yang terjaga, ia kembali kepada wanita itu dan berkata,
"Ya, mereka semua telah tertidur."
Wanita itu lalu bertanya,
فقالت : ما تقول فى الله تعالى أنائم في هذه الساعة
"Apa pendapatmu tentang Allah Ta'ala? Apakah Dia juga tertidur pada saat ini?"
Laki-laki itu terdiam sejenak, lalu menjawab,
إن الله تعالى لا ينام ولا تأخذه سنة ولا نوم
"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak pernah tidur, dan Dia tidak pernah mengantuk."
Mendengar jawaban itu, wanita tersebut berkata,
إن الذى لم ينم ولا ينام يرانا وأن كان الناس لا يروننا فذلك أولى أن يخاف منه
"Jika Dia yang tidak tidur dan tidak pernah mengantuk sedang melihat kita, sementara manusia tidak melihat kita, maka Dia lebih berhak untuk kita takuti."
Laki-laki itu tersentak dengan perkataan tersebut. Kata-kata wanita itu menusuk hatinya dan membangunkan kesadarannya. Seketika itu juga, ia meninggalkan wanita itu karena takut kepada Allah. Ia bertobat dengan sungguh-sungguh dan kembali ke kampung halamannya dengan hati yang penuh penyesalan.
Waktu pun berlalu, dan suatu hari laki-laki itu meninggal dunia. Beberapa orang melihatnya dalam mimpi dan bertanya kepadanya,
ما فعل الله بك
"Apa yang Allah lakukan terhadapmu?"
Ia menjawab,
فقال غفر لي بخوفى وتركى ذلك الذنب
"Allah telah mengampuniku karena rasa takutku kepada-Nya dan karena aku meninggalkan dosa tersebut."
Pelajaran dari Kisah Ini:
1. Takut kepada Allah adalah benteng dari maksiat.** Jika seseorang benar-benar sadar bahwa Allah selalu melihatnya, ia tidak akan berani melanggar perintah-Nya.
2. Godaan hawa nafsu bisa sangat kuat, tetapi kesadaran akan pengawasan Allah lebih kuat.
3. Tobat yang tulus membawa ampunan.Allah mengampuni dosa siapa saja yang bertobat dengan sepenuh hati.
4. Allah tidak tidur dan selalu mengawasi hamba-Nya.Sebagaimana firman-Nya:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
_"Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Tidak mengantuk dan tidak tidur." (QS. Al-Baqarah: 255)_
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menjaga diri dari perbuatan dosa dan senantiasa merasa diawasi oleh Allah.

.jpeg)
Posting Komentar
0Komentar