بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين .
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada penghulu para rasul, junjungan kita Nabi Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
أما بعد :
فإن شهر شعبان من الأشهر الكريمة والمواسم العظيمة، وهو شهر بركاته ، مشهورة وخيراته موفورة، والتوبة فيه من أعظم الغنائم الصالحة، والطاعة فيه من أكبر المتاجر الرابحة، جعله الله مضمار الزمان وضمن فيه للتائبين الأمان، من عود نفسه فيه بالاجتهاد، فاز في رمضان بحسنِ الاعتياد
Amma ba’du (Adapun setelah itu):
Sesungguhnya bulan Sya'ban adalah salah satu bulan yang mulia dan termasuk musim keberkahan yang agung. Bulan ini penuh dengan keberkahannya yang terkenal dan kebaikannya yang melimpah. Taubat di bulan ini termasuk salah satu keuntungan yang paling besar, dan ketaatan di dalamnya merupakan perniagaan yang paling menguntungkan. Allah menjadikannya sebagai ajang perlombaan dalam waktu, serta memberikan jaminan keamanan bagi orang-orang yang bertaubat di dalamnya. Barang siapa yang membiasakan dirinya bersungguh-sungguh dalam ibadah di bulan ini, maka ia akan mendapatkan kebiasaan baik di bulan Ramadan.
وسمي شعبان : لأنه يتشعب منه خير كثير ، وقيل : معناه شاع بان، وقيل: مشتق من الشعب - بكسر الشين – ، وهـو طريق في الجبل، فهو طريق الخير، وقيل: من الشعب بفتحها ـ وهو الجبر، فيجبر الله فيه كسر القلوب، وقيل غير ذلك
Bulan ini disebut Sya’ban karena darinya bercabang banyak kebaikan. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah "syā’a bān" (شاع بان), (yaitu sesuatu yang tersebar dan tampak). Ada juga yang berpendapat bahwa ia berasal dari kata "sya’b" (شِعْب) dengan kasrah pada huruf syin, yang berarti jalan di gunung، sehingga dapat diartikan sebagai jalan menuju kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa asal katanya dari "sya’b" (شَعْب) dengan fathah pada huruf syin, yang berarti penyambung atau penghubung، sehingga dalam bulan ini Allah menyatukan kembali hati yang hancur dan luka. Ada pula pendapat lain mengenai asal usul penamaannya.
وهذه رسالة كتبناها حول شهر شعبان وماذا فيه؟.. ولماذا يحتفل به المسلمون، ويجتهدون في إقبالهم على الله سبحانه وتعالى بالتوبة والعبادة والطاعة، والأعمال الصالحة بكل أنواعها، ويُحيون فيه قلوبهم بذكر الله، وزيارة رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإعمار بيت الله بالصلاة والطواف والعمرة..
Ini adalah sebuah risalah yang kami tulis mengenai bulan Sya’ban—apa saja yang terdapat di dalamnya, mengapa kaum Muslimin merayakannya, serta mengapa mereka bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui taubat, ibadah, ketaatan, serta berbagai bentuk amal saleh.
Di bulan ini, mereka menghidupkan hati mereka dengan dzikir kepada Allah, berziarah ke makam Rasulullah ﷺ, serta memakmurkan Baitullah dengan shalat, thawaf, dan umrah.
وقبل أن ندخل في أصل البحث، نجعل بين يدي ذلك مُقدِّمة مهمة تكون مفتاحاً لمسائل هذا الباب.
فأقول وبالله التوفيق :
من القواعد المقررة عند أهل العلم: أنَّ الزمانَ يَشـرف بـمـا يقع فيه من الحوادث التي هي الأصل في إعطاء القيمة الاعتبارية للزمان وبمقدارها يكون مقداره، وبفضلها يكون فضله وكلما كان ارتباط الناس بالحادثة قوياً وتأثرهم بها عظيماً ؛ كان ارتباطهم وتأثرهم بالزمان الذي وقعت فيـه بنفس القوة.
Sebelum masuk ke dalam pembahasan utama, kami akan menyampaikan sebuah pendahuluan penting yang menjadi kunci dalam memahami masalah-masalah yang dibahas dalam bab ini.
Maka saya katakan, dengan memohon taufik dari Allah:
Salah satu kaidah yang telah ditetapkan di kalangan para ulama adalah bahwa waktu menjadi mulia karena peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalamnya. Peristiwa-peristiwa tersebutlah yang memberikan nilai dan kehormatan pada suatu waktu, dan semakin besar peristiwa itu, semakin tinggi pula kemuliaan waktunya.
Keutamaan suatu waktu bergantung pada peristiwa yang terjadi di dalamnya. Semakin kuat keterkaitan dan pengaruh peristiwa tersebut terhadap manusia, maka semakin besar pula keterikatan dan pengaruh waktu tersebut bagi mereka.
ومن هنا يُعْلَمُ جلياً : أنَّ المقصود الأصلي في هذا الباب هو ربط الأمة بالتاريخ، وتعميق مفهوم إحساسهم وشعورهم
الديني بالوقائع والحوادث الدينية.
صحيح أن الناس يختلفون في كيفية دعوة الناس إلى هـذه الحقائق، يعني أنهم لم يتفقوا على الطريقة التي يصلون بها
Dari sini, jelaslah bahwa tujuan utama dalam pembahasan ini adalah menghubungkan umat dengan sejarah mereka, serta memperdalam kesadaran dan perasaan keagamaan mereka terhadap peristiwa-peristiwa yang memiliki nilai religius.
Memang benar bahwa manusia memiliki perbedaan dalam cara mereka menyampaikan ajakan kepada kebenaran ini. Artinya, mereka tidak selalu sepakat mengenai metode terbaik dalam menyampaikan dan menanamkan pemahaman tentang nilai-nilai tersebut.
والطريقة التي يُوصلون الناس بها، لكن المقصود الأصلي لا
أظن أنه يختلف فيه اثنان. إننا حين ندعو إلى ربط الأمة بالتاريخ عن طريق اغتنام الفرص والمناسبات التي يَجُودُ بها الزمان، فإننا في الواقع ونفس الأمر، إنما ندعوهم إلى حقيقة صافية وعقيدة صحيحة، وطريقة مستقيمة، وفطرة سليمة، لأن هذه هي تاريخنا وشرفنا.
Dan cara mereka menyampaikan ajaran ini kepada manusia berbeda-beda, tetapi tujuan utamanya tidaklah diperselisihkan oleh dua orang pun.
Ketika kita mengajak umat untuk terhubung dengan sejarah mereka melalui memanfaatkan momen-momen dan kesempatan berharga yang diberikan oleh waktu, sesungguhnya kita sedang mengajak mereka kepada hakikat yang murni, akidah yang benar, jalan yang lurus, serta fitrah yang suci. Karena, inilah sejarah dan kehormatan kita.
ومن هذه القاعدة ننطلق إلى كل خير وبر ومعروف، وهي كلها بإذن الله ،مقبولةٌ، لأنها بهذه القاعدة الأصولية مشمولة، مغتنمين فرصة الزمان التي تنشط فيها الأذهان لتستعيد الذكريات وترجع بالعقل والقلب والعاطفة إلى الوراء.. للشوق إلى التاريخ للنظر إلى الماضي للاعتبار، وهـذا هـو الدرس العلمي الذي لا تستطيع الجامعات بأساتذتها ومحاضراتها، ولا المدارس بمناهجها ومقرراتها أن تنقل الناس إليه ليعيشوه ويدركوه، ويحسوا به قلباً وعقلاً وعاطفة.
Dari prinsip inilah, kita bergerak menuju segala bentuk kebaikan, kebajikan, dan perbuatan terpuji. Semua ini, insya Allah, diterima, karena prinsip ini melandasi dan mencakup semua amalan tersebut. Kita memanfaatkan momen-momen berharga dalam waktu, yang mana pikiran manusia lebih aktif dalam mengenang sejarah dan mengembalikan akal, hati, serta perasaan mereka ke masa lalu—untuk merindukan sejarah, merenungkan masa silam, serta mengambil pelajaran darinya.
Inilah pelajaran ilmiah yang tidak dapat disampaikan oleh universitas dengan para dosen dan kuliahnya, ataupun oleh sekolah dengan kurikulum dan materi pelajarannya. Tidak ada institusi pendidikan yang mampu membawa manusia untuk benar-benar merasakan, memahami, serta menghayati sejarah dengan hati, akal, dan perasaan mereka.
إننا حين نحتفل بذكرى المولد أو ذكرى الهجرة، أو ذكرى الإسراء والمعراج، أو بمناسبة شهر شعبان، إنما ندعو الناس إلى الارتباط بعقولهم وقلوبهم وعواطفهم بالحقائق والحوادث التي تملأ ساحة هذه الأزمنة، ليس تعظيماً لها،
Ketika kita merayakan peringatan Maulid Nabi, peringatan Hijrah, peringatan Isra’ Mi’raj, atau keutamaan bulan Sya’ban, sesungguhnya kita sedang mengajak manusia untuk menghubungkan akal, hati, dan perasaan mereka dengan realitas dan peristiwa-peristiwa besar yang memenuhi waktu-waktu tersebut—bukan untuk mengagungkan waktu itu semata...
أو تأليها، أو اعتقاداً، وإنما تعظيماً لله الذي خلق الزمان والمكان، تعظيم العبد للرب الخالق، وتعظيماً لمن كان السبب فيها الذي قام بها وقامت به، وارتبطت به ارتباط الحوادث،
atau menganggapnya sebagai sesuatu yang ilahi, atau meyakininya dengan keyakinan berlebihan. Namun, kita mengagungkan Allah, yang menciptakan waktu dan tempat. Ini adalah bentuk pengagungan seorang hamba kepada Rabb Sang Pencipta.
Kita juga mengagungkan seseorang yang menjadi sebab dari peristiwa-peristiwa itu, yaitu sosok yang melaksanakan dan menghidupkan peristiwa-peristiwa tersebut, sehingga ia menjadi bagian darinya dan terikat dengannya sebagaimana peristiwa-peristiwa itu terikat dengan dirinya.
تعظيم المحب للحبيب.. لصاحب الفضـل الـذي اختاره الله ليكون هو صاحب هذه الحوادث والوقائع.
Ini adalah pengagungan seorang pecinta terhadap kekasihnya, yaitu kepada sosok yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi pemilik peristiwa-peristiwa besar ini.
. وإني لأعجب من عقول محجرة تغفل عن صاحب الحادثة الذي به وله، ومعه ومنه؛ كانت الحادثة، وتهتم بالحادثة من
حادثة.
Saya sungguh heran dengan akal-akal yang kaku, yang melupakan sosok utama dari suatu peristiwa—yaitu orang yang menjadi sebab dan pelaku utama peristiwa tersebut—dan malah hanya fokus pada peristiwa itu sendiri secara terpisah dari pelakunya.
حيث هي هذا بلا شك هو عين البدعة، بل هو تمام الجهل وقصور النظر.
Ini, tanpa ragu, adalah hakikat dari bid’ah yang sesungguhnya, bahkan merupakan bentuk kejahilan dan keterbatasan dalam memahami suatu perkara.
إننا لا نُعَظَمُ الزمان لأنه زمان... ولا المكان لأنه مكان.... لأنَّ هذا عندنا من الشرك. ولكن ننظر لما هو أعلى من ذلك وأكبر وأعظم، ولا نُعظم الأشخاص لذواتها الجسمية والعظمية، وإنما ننظر إليها من حيث مقامها ووجاهتها وجاهها ورتبتها وشرفها وحبها ومحبوبيتها، فهل من إثم أو زُورٍ في ذلك ؟
Kita tidak mengagungkan waktu hanya karena ia adalah waktu, dan tidak pula mengagungkan tempat hanya karena ia adalah tempat. Karena hal seperti ini dalam keyakinan kita adalah bentuk kesyirikan. Namun, kita melihat sesuatu yang lebih tinggi, lebih besar, dan lebih agung dari itu.
Kita juga tidak mengagungkan seseorang hanya karena wujud fisiknya, melainkan kita menghormatinya karena kedudukannya, kemuliaannya, keistimewaannya, dan karena ia adalah sosok yang dicintai dan penuh kasih sayang.
Lalu, apakah ada dosa atau kebohongan dalam hal ini?
سبحانك هذا بهتان عظيم .
وصلى الله وسلم على خاتم رسله، سيدنا محمد وعلى آلـه وصحبه أجمعين.
Maha Suci Engkau, Ya Allah, sungguh ini adalah fitnah yang besar!
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada penutup para Rasul, junjungan kita Nabi Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

.jpeg)
Posting Komentar
0Komentar