Salah satu sifat Allah yang paling agung adalah al-‘Afuw (Maha Pemaaf) dan al-Ghafur (Maha Pengampun). Dalam banyak ayat Al-Qur'an dan hadis, disebutkan bahwa Allah mencintai sifat pemaaf dan memberikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang berdosa. Konsep ini dikuatkan oleh perkataan ulama salaf yang menegaskan bahwa Allah menguji manusia dengan dosa bukan karena kebencian-Nya, tetapi agar Dia dapat memperlakukan mereka dengan rahmat dan ampunan-Nya.
Perkataan Yahya bin Mu‘adz
Dalam konteks ini, Yahya bin Mu‘adz berkata:
قال يحيى بن معاذ: لو لم يكن العَفْوُ أَحَبَّ الأشياء إليه لم يبتَلِ بالذَّنْبِ أَكْرَمَ النَّاسِ عليه.
“Seandainya tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai selain memberi ampunan, maka Dia tidak akan menguji dengan dosa orang yang paling mulia di sisi-Nya.”
Beliau mengisyaratkan bahwa Allah menguji banyak wali dan kekasih-Nya dengan sebagian dosa, agar Dia memperlakukan mereka dengan ampunan, karena sesungguhnya Allah mencintai ampunan.
قال بعضُ السَّلف الصالح: لو علمتُ أحَبَّ الأعمال إلى الله تعالى لأجْهَدْتُ نفسي فيه. فرأى قائلًا يقولُ له في منامه: إنَّك تريدُ ما لا يكون، إنَّ الله يُحِبُّ أن يَعْفُوَ ويَغْفِرَ؛ وإنما أَحَبَّ أن يَعْفُوَ؛ ليكونَ العِباد كلُّهم تحتَ عَفْوِه، ولا يُدِلُّ عليه أحَدٌ منهم بعمَلٍ.
“Sebagian ulama salaf berkata: 'Seandainya aku mengetahui amalan yang paling Allah cintai, niscaya aku akan bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya.' Lalu ia melihat seseorang dalam mimpinya yang berkata kepadanya: 'Sesungguhnya engkau menginginkan sesuatu yang tidak akan terjadi. Sesungguhnya Allah mencintai untuk memberi ampunan dan mengampuni. Dia mencintai untuk memberi ampunan agar semua hamba berada dalam naungan ampunan-Nya, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang merasa unggul di hadapan-Nya karena amalnya.'”
Dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Hadis
Konsep bahwa Allah mencintai ampunan ditegaskan dalam banyak dalil, di antaranya:
Al-Qur’an
وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (آل عمران: ١٣٤)
“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan).” (Ali Imran: 134)
Salah satu bentuk ihsan adalah memaafkan dan memberi ampunan, sebagaimana ayat sebelumnya menyebutkan tentang orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.
Hadis Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis qudsi:
“Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya kalian melakukan kesalahan siang dan malam, dan Aku mengampuni semua dosa. Maka mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (HR. Muslim, no. 2577)
Hadis ini menegaskan bahwa Allah senantiasa membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang bersedia bertaubat dan memohon ampunan.
Pandangan Ulama tentang Kasih Sayang dan Ampunan Allah
Banyak ulama yang menjelaskan bahwa sifat Allah yang Maha Pengampun merupakan bagian dari kasih sayang-Nya. Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin mengatakan:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَ النَّاسَ كُلَّهُمْ مَعْصُومِينَ، وَلَكِنَّهُ ابْتَلَاهُمْ بِالذُّنُوبِ لِيَذُوقُوا لَذَّةَ التَّوْبَةِ، وَلِيَظْهَرَ فَضْلُ عَفْوِهِ وَمَغْفِرَتِهِ.
“Seandainya Allah ingin menjadikan semua hamba-Nya tanpa dosa, tentu Dia mampu melakukannya. Namun, Allah menguji mereka dengan dosa agar mereka merasakan keindahan taubat dan keluasan ampunan-Nya.”
Begitu pula Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa:
إِنَّ عَفْوَ اللَّهِ لَا حُدُودَ لَهُ، وَكُلَّمَا عَظُمَ الذَّنْبُ، اتَّسَعَتْ رَحْمَتُهُ لِاحْتِوَائِهِ، مَا دَامَ الْعَبْدُ يُقْبِلُ عَلَيْهِ بِنَدَمٍ وَإِخْلَاصٍ.
“Ampunan Allah tidak terbatas, dan semakin besar dosa seorang hamba, semakin luas pula rahmat Allah yang mencakupnya, asalkan ia datang kepada-Nya dengan hati yang penuh penyesalan dan keikhlasan.”
Kisah Pertaubatan Abu Dzar Al-Ghifari
Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang terkenal dengan keteguhannya dalam kebenaran dan kezuhudannya. Kisah pertaubatannya sangat menarik, karena berasal dari lingkungan yang keras dan penuh dengan perampokan, namun ia akhirnya menjadi seorang Muslim yang taat.
Awal Kehidupan Abu Dzar
Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah dari suku Ghifar, sebuah suku yang dikenal sebagai perampok dan penyamun di jazirah Arab. Sebagai anggota suku yang keras dan suka merampas, Abu Dzar memiliki keberanian luar biasa. Namun, ia juga memiliki hati yang selalu mencari kebenaran.
Ampunan Allah tidak terbatas, dan semakin besar dosa seorang hamba, semakin luas pula rahmat Allah yang mencakupnya, asalkan ia datang kepada-Nya dengan hati yang penuh penyesalan dan keikhlasan.”
Mendengar Tentang Islam
Ketika berita tentang seorang Nabi baru yang membawa ajaran tauhid sampai ke telinganya, Abu Dzar penasaran. Ia mengutus saudaranya ke Makkah untuk mencari tahu tentang Muhammad ﷺ. Setelah mendengar laporan saudaranya, ia memutuskan untuk pergi sendiri ke Makkah dan menyelidikinya secara langsung.
Sesampainya di Makkah, ia berhati-hati karena khawatir dengan perlakuan Quraisy terhadap para pengikut Nabi. Ia akhirnya bertemu dengan Ali bin Abi Thalib yang kemudian membawanya ke rumah Nabi ﷺ.
Masuk Islam dan Bertobat
Di hadapan Rasulullah ﷺ, Abu Dzar mendengar langsung ajaran Islam. Tanpa ragu, ia mengucapkan syahadat dan masuk Islam. Setelah itu, ia langsung merasa harus menyampaikan kebenaran ini kepada kaum Quraisy. Ia pergi ke Ka’bah dan berseru dengan lantang, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya!"
Tindakan ini membuatnya dianiaya oleh orang-orang Quraisy hingga hampir mati. Namun, ia tetap teguh dan terus mengulanginya hingga akhirnya Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi) menyelamatkannya dengan mengingatkan Quraisy bahwa Abu Dzar berasal dari suku Ghifar yang memiliki kekuatan besar dalam perdagangan Quraisy.
Setelah kejadian itu, Nabi menyuruh Abu Dzar kembali ke sukunya dan mendakwahkan Islam di sana. Ia pun pulang dan berhasil mengislamkan banyak orang dari sukunya, termasuk suku Aslam yang bertetangga dengan mereka.
Hidup dalam Ketaatan
Setelah masuk Islam, Abu Dzar hidup dalam ketaatan dan sangat sederhana. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat jujur dan keras dalam menegakkan keadilan. Nabi ﷺ pernah berkata tentangnya:
"Tidak ada seorang pun yang lebih jujur dalam ucapannya selain Abu Dzar."(HR. Tirmidzi)
Kisah Abu Dzar menjadi pelajaran bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja, bahkan seseorang dari suku yang terkenal sebagai perampok. Keteguhan dan kejujurannya dalam Islam menjadikannya salah satu sahabat Nabi yang paling mulia.
Kesimpulan
Dari perkataan Yahya bin Mu‘adz dan dalil-dalil di atas, kita memahami bahwa Allah sangat mencintai sifat pemaaf dan ingin agar semua hamba-Nya berada dalam naungan ampunan-Nya. Oleh karena itu, kita sebagai hamba harus senantiasa:
- Bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah, karena ampunan-Nya lebih luas dari dosa-dosa kita.
- Tidak sombong dengan amal kebaikan, sebab semua hamba berada dalam kasih sayang dan ampunan-Nya.
- Meneladani sifat Allah dengan memaafkan orang lain, sebagaimana Allah mencintai mereka yang memaafkan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu berada dalam rahmat dan ampunan-Nya. Aamiin.

.jpeg)
Posting Komentar
0Komentar