Kesombongan dan Fanatisme dalam Sejarah: Pelajaran bagi Umat Islam
Kesombongan (kibr) dan fanatisme golongan (ashabiyah) merupakan dua penyakit hati yang telah banyak menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Dalam sejarah, kedua penyakit ini sering menjadi penghalang bagi seseorang untuk menerima kebenaran. Berikut beberapa contoh nyata dari kesombongan dan fanatisme yang menyebabkan umat terdahulu menolak kebenaran meskipun mereka telah mengetahuinya.
1. Penolakan Bani Israil terhadap Nabi Akhir Zaman
Dahulu, para rahib dan kaum Bani Israil mengetahui dari kitab mereka bahwa akan datang seorang nabi akhir zaman. Mereka berharap nabi tersebut berasal dari kalangan mereka sendiri, yaitu Bani Israil. Namun, ketika Nabi Isa ‘alaihis salam menyampaikan bahwa nabi tersebut berasal dari keturunan Ismail, yakni bangsa Arab, mereka menolak dengan keras.
Alasan penolakan mereka bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena fanatisme kesukuan. Mereka enggan menerima nabi dari luar golongan mereka, meskipun tanda-tanda kenabiannya telah jelas.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
"Dan setelah datang kepada mereka kitab dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka—padahal sebelumnya mereka biasa memohon kedatangan (Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir—tetapi setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar."
(QS. Al-Baqarah: 89)
2. Kesombongan Abu Jahal terhadap Kebenaran Al-Qur’an
Dikisahkan bahwa ketika Abu Sufyan bertanya kepada Abu Jahal tentang keaslian Al-Qur’an, Abu Jahal mengakui bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah wahyu dari Allah dan bukan buatan manusia.
Namun, ketika ditanya mengapa ia tetap menolak beriman kepada Rasulullah ﷺ, Abu Jahal memberikan jawaban yang mencerminkan kesombongan dan fanatisme kesukuannya. Ia berkata bahwa ia berasal dari Bani Makhzum, sementara Muhammad ﷺ berasal dari Bani Abdul Manaf. Ia merasa tidak bisa menerima seorang nabi yang berasal dari suku lain.
Allah berfirman tentang sikap orang-orang seperti ini:
"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenarannya). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan."
(QS. An-Naml: 14)
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai celaan bagi mereka yang menolak kebenaran bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena keangkuhan mereka.
3. Penolakan Huyay bin Akhtab terhadap Rasulullah ﷺ
Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, salah satu istri Rasulullah ﷺ, adalah putri seorang pemuka Yahudi dari Bani Nadhir. Ayahnya, Huyay bin Akhtab, adalah seorang ahli Taurat yang sangat memahami tanda-tanda kenabian.
Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, Huyay bersama saudaranya pergi untuk memastikan apakah Muhammad ﷺ adalah nabi yang dijanjikan dalam kitab mereka. Setelah mengamatinya dengan seksama, mereka yakin bahwa Muhammad ﷺ memang nabi terakhir yang disebut dalam Taurat.
Namun, ketika Shafiyyah bertanya kepada ayahnya mengapa ia tidak beriman, Huyay hanya menjawab:
"Sayangnya, Muhammad bukan dari golongan kami (Yahudi)."
Fanatisme golongan membuat seseorang menolak kebenaran, meskipun bukti-buktinya telah nyata.
Racun Fanatisme dalam Umat Islam
Kesombongan dan Fanatisme, Penyakit yang Merusak Ukhuwah
Fanatisme golongan (ashabiyah) bukan hanya penyakit kaum terdahulu, tetapi juga terus merusak umat Islam hingga hari ini. Dua penyakit utama yang menjadi sumber kehancuran ukhuwah Islamiyah adalah:
-
Al-Kibr (Kesombongan) – merasa lebih baik dari orang lain dan enggan menerima kebenaran.
-
Ashabiyah (Fanatisme Golongan) – lebih mencintai kelompok atau golongan sendiri daripada kebenaran.
Allah menggambarkan kesombongan ini dalam kisah Iblis yang menolak sujud kepada Adam ‘alaihis salam:
"(Iblis) berkata, ‘Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’"
(QS. Al-A’raf: 12)
Fanatisme juga menjangkiti umat Islam hari ini dalam berbagai bentuk:
🔹 "Hizb atau harakah kami lebih baik daripada harakah mereka."
🔹 "Ustadz kami lebih baik karena lulusan dari Madinah."
🔹 "Ustadz kami lebih baik karena lulusan Al-Azhar."
Sikap ini sering kali berujung pada perpecahan, saling menyesatkan, bahkan saling men-tahdzir (mencela) satu sama lain.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme kesukuan), bukan termasuk golongan kami orang yang berperang atas dasar ashabiyah, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati dalam keadaan ashabiyah."
(HR. Abu Dawud, no. 5121; Ahmad, no. 8779; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 1002)
Menolak Kebenaran karena Fanatisme
Orang yang telah terjangkit penyakit ashabiyah akan menutup mata terhadap kebenaran, meskipun ia tahu bahwa kebenaran itu sangat jelas. Ini seperti seseorang yang menolak cahaya matahari meskipun ia berdiri di bawah sinarnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain."
(HR. Muslim, no. 91)
Ketika seseorang merasa lebih baik dari yang lain hanya karena sukunya, kelompoknya, atau pendapat gurunya, maka ia telah terjerumus dalam kesombongan yang sama seperti yang dilakukan Iblis dan kaum terdahulu.
Kesimpulan: Kembalilah kepada Kebenaran
✅ Islam bukan tentang kelompok atau golongan, tetapi tentang mengikuti kebenaran.
✅ Kebenaran harus diterima dari siapa pun, bukan berdasarkan siapa yang menyampaikannya.
✅ Ukhuwwah Islamiyah harus lebih diutamakan daripada fanatisme golongan.
Allah berfirman:
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..."
(QS. Ali 'Imran: 103)
Jika kita ingin membangun kembali ukhuwah Islamiyah yang kuat, kita harus meninggalkan kesombongan dan fanatisme yang hanya akan memperlemah umat Islam. Jangan sampai kita terperangkap dalam perpecahan hanya karena merasa kelompok kita lebih baik daripada yang lain.
Semoga Allah menjaga hati kita dari penyakit ini dan membimbing kita kepada kebenaran yang sejati.
Wallahu a’lam bish-shawab.

.jpeg)
Posting Komentar
0Komentar