Pendahuluan
Segala puji bagi Allah, kita memohon perlindungan kepada-Nya dari keburukan diri kita dan perbuatan kita. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º beserta keluarga dan sahabatnya.
Marilah kita luangkan waktu sejenak untuk menelaah dan memahami ajaran Islam, khususnya mengenai **ketaatan dan keadilan**. Kita berharap semoga melalui telaah ini, Allah menganugerahkan taufik, hidayah, dan pemahaman kepada kita. Oleh karena itu, mari kita mulai dengan membaca Basmalah:
_Bismillahirrahmanirrahim._
Islam sebagai Konsep Ilahi
Islam merupakan satu-satunya sistem kehidupan yang berasal dari Allah, bukan hasil pemikiran manusia. Konsep-konsep Islam tertuang dalam kitab-kitab yang Allah turunkan kepada para nabi, seperti Suhuf Ibrahim, Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur'an.
Dalam Islam, ketaatan dan keadilan bukan sekadar teori, tetapi konsep yang bisa dianalisis dan diuji kebenarannya. Jika ada yang ragu, silakan hadirkan konsep lain yang lebih baik. Namun, Islam tetap menjadi pedoman yang unggul karena bersumber dari wahyu Allah.
Hakikat Ketaatan dalam Islam
Secara naluriah, manusia cenderung menaati sesuatu yang disenangi dan menolak yang tidak disukai. Ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 14:
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, tetapi di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (QS. Ali Imran: 14)
Ayat ini menggambarkan bagaimana manusia memiliki kecenderungan terhadap dunia. Cinta terhadap harta, kekuasaan, dan kesenangan duniawi sering kali membuat seseorang sulit berlaku adil. Bahkan, manusia cenderung ingin menguasai dan memonopoli apa yang mereka cintai, yang dalam Islam disebut sebagai mungkar—sifat naluriah hewan ternak yang tidak mengenal keadilan.
Allah menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah bisa berlaku adil secara sempurna dalam hal kecenderungan hati, seperti yang disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 129:
"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian."(QS. An-Nisa: 129)
Ini menunjukkan bahwa keadilan bukan hanya sekadar keinginan, tetapi membutuhkan bimbingan wahyu dan pengendalian diri.
Konsep Keadilan dalam Islam
Islam mengajarkan bahwa keadilan bukan berarti **sama rasa, sama rata**, sebagaimana konsep dalam ideologi komunis atau kapitalis. Sebaliknya, keadilan dalam Islam adalah menempatkan sesuatu sesuai haknya.
Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 58:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa: 58)
Keadilan dalam Islam berlaku di semua aspek kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun pemerintahan. Bahkan, ketika berbicara atau memberi keputusan, seorang Muslim harus bersikap adil, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-An'am ayat 152:
"Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu)." (QS. Al-An’am: 152)
Ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh memihak hanya karena faktor emosional atau hubungan darah.
Pentingnya Keadilan bagi Pemimpin
Dalam Islam, keadilan sangat ditekankan bagi pemimpin, karena pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam menegakkan keadilan di masyarakat. Rasulullah ï·º bersabda:
"Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain dari-Nya: (1) pemimpin yang adil…." (HR. Bukhari & Muslim)
Imam Al-Ghazali dalam _Ihya Ulumuddin_ menjelaskan bahwa keadilan seorang pemimpin adalah kunci kesejahteraan umat. Jika pemimpin zalim, maka akan muncul kehancuran dan penderitaan. Oleh karena itu, pemimpin harus menegakkan hukum Allah dengan adil, tanpa terpengaruh kepentingan pribadi.
Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata:
"Seandainya seekor keledai terperosok di jalanan Irak, aku takut Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadaku, kenapa aku tidak memperbaiki jalannya."
Ini menunjukkan betapa besarnya tanggung jawab seorang pemimpin dalam Islam.
Keadilan dalam Skala Global
Ketidakadilan tidak hanya terjadi dalam skala individu atau negara, tetapi juga dalam hubungan internasional. Kita bisa melihat bagaimana standar ganda diterapkan dalam hukum global. Misalnya, meskipun Israel secara terang-terangan menjajah Palestina, namun Dewan Keamanan PBB tidak pernah secara resmi menyatakannya sebagai penjajah. Ini menunjukkan bagaimana hukum sering kali dikendalikan oleh kepentingan politik dan hawa nafsu.
Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 135:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu." (QS. An-Nisa: 135)
Ayat ini menegaskan bahwa keadilan tidak boleh dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, keluarga, atau kekuatan politik.
Kesimpulan
1. Islam adalah konsep ilahi yang menjadi pedoman hidup manusia.
2. Ketaatan dalam Islam harus berdasarkan wahyu, bukan hawa nafsu.
3. Keadilan dalam Islam berarti menempatkan sesuatu sesuai haknya, bukan sekadar kesetaraan semu.
4. Pemimpin yang adil akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat.
5. Ketidakadilan global menunjukkan bahwa tanpa Islam, keadilan hanya menjadi ilusi.
Sebagai umat Islam, kita harus memahami konsep ketaatan dan keadilan dengan benar, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari agar kita mendapatkan **ridha Allah** dan kesejahteraan dunia akhirat.
Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan ini. Amin.
------------------------------
Note : Dirangkum dan dijabarkan dari isi kajian online Ust. Yasri, MHi

.jpeg)
Posting Komentar
0Komentar