Oleh: M. Muhajirin
(Penikmat Kopi Hitam)
Tidak bisa kita pungkiri, ada sebagian ulama (orang yang berilmu) yang justru kehadirannya membawa keburukan. Pada masa sebelum Islam, misalnya, kaum Ahlul Kitab banyak disesatkan oleh tokoh-tokoh mereka sendiri. Mereka menyembunyikan kebenaran yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang mereka yakini.
Contohnya, dalam kitab mereka telah dijelaskan bahwa di akhir zaman akan datang seorang Rasul sebagai penutup para nabi. Namun, ketika Rasulullah ﷺ hadir, mereka justru menolaknya hanya karena beliau bukan berasal dari golongan mereka. Artinya, mereka mengakui kebenaran kitab suci mereka, tetapi menolak Rasulullah ﷺ karena hawa nafsu. Inilah salah satu ciri ulama su'—orang yang berilmu tetapi memiliki sikap buruk terhadap kebenaran.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab I’lam Al-Muwaqqi’in:
"Ulama yang buruk adalah mereka yang duduk di pintu surga, mengajak orang lain kepadanya dengan perkataan mereka, tetapi mengajak ke neraka dengan perbuatan mereka. Setiap kali mereka berbicara, perkataan mereka memikat hati manusia, tetapi perbuatan mereka menyesatkan mereka."
Rasulullah ﷺ juga bersabda mengenai ulama su':
رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي رِجَالًا تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ
فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟
قَالَ: الخُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
"Pada malam aku diisra’kan oleh Allah, aku melihat orang-orang yang mulutnya digunting dengan gunting-gunting dari neraka. Aku bertanya, ‘Siapa mereka, wahai Jibril?’ Maka ia menjawab, ‘Mereka adalah para penceramah dari umatmu yang menyuruh orang lain berbuat baik, tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka membaca kitab (Al-Qur'an), tidakkah mereka berpikir?’"
(HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)
Fenomena Ulama Su' di Masa Kini
Jika kita telaah lebih dalam, saat ini banyak orang yang menyandang gelar "ulama". Namun, ada di antara mereka yang hanya menjadi alat legitimasi bagi penguasa zalim. Mereka diam ketika penguasa bertindak sewenang-wenang, tetapi justru paling keras dalam mengkritik kesalahan rakyat kecil.
Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya Ulumuddin berkata:
"Kehancuran umat disebabkan oleh ulama yang buruk. Mereka lebih mencintai dunia daripada akhirat, dan lebih mengutamakan hawa nafsu dibandingkan kebenaran."
Padahal, ulama yang sejati adalah orang yang paling takut kepada Allah, bukan kepada pemilik harta atau kekuasaan. Islam bahkan telah melarang seorang Muslim menghormati seseorang hanya karena kekayaannya. Sebab, jika itu terjadi, maka lisan akan tersumbat untuk menyampaikan kebenaran.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi:
وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ
"Barang siapa merendahkan diri di hadapan orang kaya hanya karena kekayaannya, maka telah hilang dua pertiga dari agamanya.
Ketegasan Rasulullah ﷺ dalam Menegakkan Keadilan
Di bulan Ramadhan 1446 H ini, marilah kita meneladani Rasulullah ﷺ dalam menetapkan syariat secara adil, tanpa pandang bulu, bahkan terhadap keluarga beliau sendiri.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:
أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ
فَقَالُوا: مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ، حِبُّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ؟»
ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، فَقَالَ:
«إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»
*"Orang-orang Quraisy mengkhawatirkan nasib seorang wanita dari Bani Makhzumiyyah yang mencuri. Mereka bertanya, ‘Siapa yang bisa berbicara kepada Rasulullah ﷺ untuk membelanya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah ﷺ.’
Maka Usamah pun meminta keringanan kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun bersabda, ‘Apakah engkau ingin memberi syafaat dalam perkara hukum Allah?’
Rasulullah ﷺ lalu berdiri dan berkhutbah: ‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka membiarkan orang-orang terhormat jika mencuri, tetapi menegakkan hukuman bagi orang yang lemah. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.’”*
(HR. Bukhari No. 6788 dan Muslim No. 1688)
Kesimpulan
Jawaban Rasulullah ﷺ ini menunjukkan ketegasan seorang pemimpin sejati. Beliau tidak takut kepada siapa pun selain Allah, dan menegakkan hukum dengan adil, tanpa pandang bulu.
Seandainya Rasulullah ﷺ mengikuti permintaan Usamah bin Zaid, mungkin umat Islam akan binasa dalam ketidakadilan. Maka dari itu, janganlah kita menjadi pengikut setia ulama su', apalagi jika kita sendiri yang melakukannya.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata:
"Tidak ada yang lebih berbahaya bagi agama ini selain ulama su', mereka yang berbicara tanpa ilmu dan menjual agamanya demi dunia."
Na’udzubillah.
Wallahu A'lam.

.jpeg)

Posting Komentar
0Komentar