Pendahuluan
Khutbah Jum’at merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelaksanaan shalat Jum’at. Syariat menempatkan khutbah dalam posisi yang sangat penting, bahkan menggantikan dua rakaat dalam shalat Zhuhur sebagaimana ditunjukkan oleh para ulama. Oleh karena itu, mendengarkan khutbah dengan seksama bukan sekadar adab, melainkan memiliki dasar hukum yang kuat. Artikel ini menyajikan penjelasan fikih mengenai hukum mendengarkan khutbah Jum’at menurut empat mazhab besar dan ulama salaf.
---
Hukum Mendengarkan dan Diam Saat Khutbah
Para fuqaha berbeda pendapat tentang hukum mendengarkan dan diam saat khutbah. Mayoritas ulama dari mazhab Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah, dan juga al-Awza’i berpendapat bahwa wajib hukumnya mendengarkan khutbah dan diam dari segala bentuk pembicaraan.
Pendapat ini juga disandarkan kepada para sahabat, seperti:
- ‘Utsman bin ‘Affan
- ‘Abdullah bin ‘Umar
- Ibnu Mas’ud
Mereka menjelaskan bahwa khutbah menempati posisi dua rakaat dalam shalat fardhu, maka segala larangan dalam shalat juga berlaku saat khutbah, seperti makan, minum, bahkan berbicara — termasuk tasbih, menjawab salam, amar ma’ruf dan nahi munkar.
Dalil yang dijadikan sandaran:
1. Firman Allah Ta’ala:
> {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا}
(Artinya: Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat)
— QS. Al-A’raf: 204
2. Sabda Nabi SAW:
> «إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: أَنْصِتْ - وَالإِمَامُ يَخْطُبُ - فَقَدْ لَغَوْتَ»
(Artinya: Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jum’at, ‘Diamlah’, sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh kamu telah berbuat sia-sia)
— HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah
---
Pendapat Mazhab Syafi’iyyah
Mazhab Syafi’i memandang bahwa mendengarkan khutbah adalah sunnah, bukan wajib. Oleh karena itu, berbicara saat khutbah tidak haram, tetapi makruh. Imam an-Nawawi meriwayatkan pendapat ini dari:
- ‘Urwah bin Zubair
- Sa’id bin Jubair
- asy-Sya’bi
- an-Nakha’i
- ats-Tsauri
- Riwayat dari Imam Ahmad juga ada yang sejalan dengan ini
Mereka berdalil bahwa adanya peristiwa seorang Arab Badui yang menyela khutbah Nabi SAW untuk meminta doa karena kekeringan, dan Nabi tidak melarangnya (HR. Bukhari & Muslim).
---
Berbicara Karena Keperluan Mendesak
Ulama sepakat bahwa jika terjadi darurat saat khutbah berlangsung — seperti:
- Menolong orang dari bahaya
- Mengingatkan terhadap kalajengking
- Mencegah orang buta agar tidak jatuh ke dalam sumur
— maka pembicaraan tidak dilarang, tetapi disunnahkan menggunakan isyarat jika mencukupi.
Menurut mazhab Syafi’i:
> "Pembicaraan dalam hal ini dibolehkan tanpa makruh."
---
Berbicara bagi Orang yang Baru Masuk Masjid
Mazhab Syafi’i juga membolehkan orang yang baru masuk masjid saat khutbah berbicara sebelum duduk. Bahkan jika dia mengucapkan salam kepada jamaah yang sedang mendengarkan khutbah, mereka wajib menjawabnya karena mendengarkan khutbah adalah sunnah. Termasuk juga mendoakan orang bersin (tashmit) jika mengucapkan “Alhamdulillah”.
--
Orang yang Tidak Mendengar Khutbah (Terlalu Jauh)
Bagi jamaah yang duduk terlalu jauh dari khatib dan tidak mendengar khutbah, menurut Hanabilah dan Syafi’iyyah, mereka boleh:
- Membaca Al-Qur’an
- Berdzikir kepada Allah
- Bershalawat kepada Nabi SAW
Namun dengan suara pelan, agar tidak mengganggu orang lain yang lebih dekat ke khatib.
Perilaku ini diriwayatkan dari:
- ‘Atha’ bin Abi Rabah
- Sa’id bin Jubair
- Alqamah bin Qais
- Ibrahim an-Nakha’i
Bahkan an-Nakha’i berkata:
> "Aku biasa membaca bagian juzku ketika tidak mendengar khutbah hari Jum’at."
Dan saat ditanya oleh Alqamah:
> "Bolehkah aku membaca dalam hati saat khutbah?"
Ia menjawab:
> "Semoga itu tidak mengapa."
---
Kesimpulan
Perbedaan pendapat ulama dalam menyikapi hukum mendengarkan khutbah menunjukkan keluasaan fiqh Islam dalam mengakomodasi kondisi jamaah. Namun, yang paling aman dan utama adalah mengikuti pendapat jumhur ulama yang mewajibkan untuk diam dan mendengarkan khutbah sebagai bentuk pengagungan terhadap syiar Jum’at, kecuali dalam keadaan darurat.
Wallahu a’lam.
----------------------------
Referensi rujukan : Mausu'ah fiqqiyah Al quwaitiyyah
Catatan Kaki dan Rujukan Klasik Ulams
1. QS. Al-A’raf: 204
Digunakan oleh para ulama Hanafiyyah, Hanabilah, dan Malikiyyah untuk menunjukkan kewajiban mendengarkan bacaan yang termasuk khutbah, karena khutbah sering kali mengandung ayat-ayat Al-Qur’an.
2. Hadis Abu Hurairah – HR. Bukhari dan Muslim:
> “إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: أَنْصِتْ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ”
Terdapat dalam:
- Sahih Bukhari, Kitab al-Jumu’ah, Bab al-Inshat yawma al-Jumu’ah
- Sahih Muslim, Kitab al-Jumu’ah
3. Al-Mabsuth li as-Sarakhsi (2/39):
Menjelaskan bahwa khutbah menempati posisi dua rakaat dalam shalat, maka segala larangan dalam shalat berlaku padanya, seperti berbicara, makan, dan sebagainya.
4. Al-Mudawwanah al-Kubra (1/232):
Malikiyyah mengecualikan zikir ringan saat khutbah jika ada sebab, seperti tahlil, tahmid, istighfar, dan shalawat, dengan catatan dilakukan secara sirr (tidak bersuara keras).
5. Al-Mughni li Ibn Qudamah (2/85):
Hanabilah memperbolehkan orang yang tidak mendengar khutbah untuk berzikir dan membaca Qur'an, tapi tanpa mengangkat suara agar tidak mengganggu orang lain.
6. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab li an-Nawawi (4/501):
Menyebutkan pendapat Syafi’iyyah bahwa mendengarkan khutbah adalah sunnah, bukan wajib. Juga dijelaskan bahwa berbicara tidak haram namun makruh, dan dibolehkan menjawab salam, tashmit, dan berbicara dalam kondisi darurat.
7. Tafsir al-Qurthubi (7/271):
Menafsirkan ayat {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ...} sebagai dalil kewajiban mendengarkan bacaan Al-Qur’an, dan ini digunakan oleh sebagian fuqaha sebagai dasar wajibnya diam saat khutbah karena khutbah biasanya disertai ayat.
8. Al-Muhalla li Ibn Hazm (5/36):
Ibn Hazm menegaskan kewajiban diam saat khutbah, dengan menyebutkan bahwa siapa yang berbicara atau menyibukkan diri dari mendengarkan khutbah tanpa uzur, maka dia berdosa.
---------------------
Sumber referensi ( teks arab)
حُكْمُ اسْتِمَاعِ خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ:
اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ الاِسْتِمَاعِ وَالإِْنْصَاتِ لِلْخُطْبَةِ.
١٢ - فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ، وَالْمَالِكِيَّةُ، وَالْحَنَابِلَةُ، وَالأَْوْزَاعِيُّ إلَى وُجُوبِ الاِسْتِمَاعِ وَالإِْنْصَاتِ، وَهُوَ مَا ذَهَبَ إلَيْهِ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، وَابْنُ مَسْعُودٍ (١) ، حَتَّى قَال الْحَنَفِيَّةُ: كُل مَا حَرُمَ فِي الصَّلاَةِ حَرُمَ فِي الْخُطْبَةِ، فَيَحْرُمُ أَكْلٌ، وَشُرْبٌ، وَكَلاَمٌ، وَلَوْ تَسْبِيحًا، أَوْ رَدَّ سَلاَمٍ، أَوْ أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ، أَوْ نَهْيًا عَنْ مُنْكَرٍ. وَاسْتَدَلُّوا عَلَى ذَلِكَ: - بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا} (٢)
- وَبِأَنَّ الْخُطْبَةَ كَالصَّلاَةِ، فَهِيَ قَائِمَةٌ مَقَامَ رَكْعَتَيْنِ مِنَ الْفَرِيضَةِ، وَلَمْ يَسْتَثْنِ الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ مِنْ ذَلِكَ إلاَّ تَحْذِيرَ مَنْ خِيفَ هَلاَكُهُ، لأَِنَّهُ يَجِبُ لِحَقِّ آدَمِيٍّ، وَهُوَ مُحْتَاجٌ إلَيْهِ، أَمَّا الإِْنْصَاتُ فَهُوَ لِحَقِّ اللَّهِ تَعَالَى، وَحُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى مَبْنِيَّةٌ عَلَى الْمُسَامَحَةِ. (٣)
وَاسْتَثْنَى الْمَالِكِيَّةُ أَيْضًا: الذِّكْرَ الْخَفِيفَ إنْ كَانَ لَهُ سَبَبٌ، كَالتَّهْلِيل، وَالتَّحْمِيدِ، وَالاِسْتِغْفَارِ، وَالتَّعَوُّذِ، وَالصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُمُ اخْتَلَفُوا فِي وُجُوبِ الإِْسْرَارِ بِهَذِهِ الأَْذْكَارِ الْخَفِيفَةِ.
وَاسْتَدَل مَنْ قَال بِوُجُوبِ الاِسْتِمَاعِ لِلْخُطْبَةِ بِمَا رَوَاهُ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ سَيِّدِنَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: أَنْصِتْ - وَالإِْمَامُ يَخْطُبُ - فَقَدْ لَغَوْتَ. (١)
١٣ - وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إلَى أَنَّ الاِسْتِمَاعَ وَالإِْنْصَاتَ أَثْنَاءَ الْخُطْبَةِ سُنَّةٌ، وَلاَ يَحْرُمُ الْكَلاَمُ، بَل يُكْرَهُ، وَحَكَى ذَلِكَ النَّوَوِيُّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، وَالشَّعْبِيُّ، وَالنَّخَعِيُّ، وَالثَّوْرِيُّ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنِ الإِْمَامِ أَحْمَدَ (٢) . وَاسْتَدَلُّوا عَلَى الْكَرَاهَةِ بِالْجَمْعِ بَيْنَ حَدِيثِ: إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ: أَنْصِتْ، فَقَدْ لَغَوْتَ (٣) وَخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَنَسٍ: فَبَيْنَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَال: يَا رَسُول اللَّهِ، هَلَكَ الْمَال وَجَاعَ الْعِيَال فَادْعُ لَنَا أَنْ يَسْقِيَنَا. قَال: فَرَفَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَمَا فِي السَّمَاءِ قَزَعَةٌ. . .
وَإِنْ عَرَضَ لَهُ نَاجِزٌ كَتَعْلِيمِ خَيْرٍ، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ، وَإِنْذَارِ إنْسَانٍ عَقْرَبًا، أَوْ أَعْمَى بِئْرًا لَمْ يُمْنَعْ مِنَ الْكَلاَمِ، لَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الإِْشَارَةِ إنْ أَغْنَتْ، وَيُبَاحُ لَهُ - أَيِ الْكَلاَمُ - بِلاَ كَرَاهَةٍ.
وَيُبَاحُ الْكَلاَمُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ لِلدَّاخِل فِي أَثْنَاءِ
الْخُطْبَةِ مَا لَمْ يَجْلِسْ، كَمَا صَرَّحُوا بِأَنَّهُ لَوْ سَلَّمَ دَاخِلٌ عَلَى مُسْتَمِعِ الْخُطْبَةِ وَهُوَ يَخْطُبُ، وَجَبَ الرَّدُّ عَلَيْهِ بِنَاءً عَلَى أَنَّ الإِْنْصَاتَ سُنَّةٌ، وَيُسْتَحَبُّ تَشْمِيتُ الْعَاطِسِ إِذَا حَمِدَ اللَّهَ، لِعُمُومِ الأَْدِلَّةِ، وَإِنَّمَا لَمْ يُكْرَهْ كَسَائِرِ الْكَلاَمِ لأَِنَّ سَبَبَهُ قَهْرِيٌّ. (١)
١٤ - وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إلَى أَنَّ لِلْبَعِيدِ الَّذِي لاَ يَسْمَعُ صَوْتَ الْخَطِيبِ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ، وَيَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى، وَيُصَلِّيَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ، لأَِنَّهُ إنْ رَفَعَ صَوْتَهُ مَنَعَ مَنْ هُوَ أَقْرَبُ مِنْهُ مِنْ الاِسْتِمَاعِ، وَهَذَا مَرْوِيٌّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، وَعَلْقَمَةَ بْنِ قَيْسٍ، وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ (٢) ، حَتَّى قَال النَّخَعِيُّ: إنِّي لأََقْرَأُ جُزْئِي إِذَا لَمْ أَسْمَعِ الْخُطْبَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ (٣) .
وَسَأَل إبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ عَلْقَمَةَ: أَقْرَأُ فِي نَفْسِي أَثْنَاءَ الْخُطْبَةِ؟ فَقَال عَلْقَمَةُ: لَعَل ذَلِكَ أَلاَّ يَكُونَ
بِهِ بَأْسٌ



Posting Komentar
0Komentar