Khutbah Jum'at merupakan salah satu rukun penting dalam pelaksanaan shalat Jum'at. Seiring dengan pelaksanaannya, muncul sejumlah adab dan hukum yang diperselisihkan di kalangan ulama. Berikut ini adalah penjelasan seputar tiga persoalan penting terkait khutbah Jum'at, yakni membaca shalawat sebelum khutbah, hukum tahiyatul masjid saat khatib berkhutbah, dan hukum turun dari mimbar menuju mihrab setelah khutbah.
---
1. Membaca Shalawat dan Hadits Sebelum Khutbah
Praktik: Membaca ayat:
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi..." (QS. Al-Ahzab: 56),
serta hadits
"Jika kamu berkata kepada temanmu, 'Diamlah!' saat imam sedang berkhutbah, maka sungguh kamu telah melakukan kesia-siaan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hukum:
Mazhab Hanafi: Makruh tahrim. Abu Hanifah melarang segala bentuk ucapan atau tambahan setelah imam naik mimbar, termasuk membaca ayat atau hadits.
Ash-habain (dua murid Abu Hanifah): Membolehkan praktik tersebut karena mengandung pengingatan terhadap kebaikan.
Mazhab Maliki: Bid'ah makruhah, kecuali jika diisyaratkan dalam kitab wakaf masjid. Dikecualikan untuk kalangan tertentu seperti imam besar atau penguasa.
Mazhab Syafi'i: Bid'ah hasanah, karena mengandung pengingatan terhadap ayat dan sunnah yang sahih.
Mazhab Hanbali: Boleh berbicara sebelum khutbah dan saat duduk di antara dua khutbah.
Pendapat Ulama:
Al-Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Al-Majmu' menyatakan bahwa membaca ayat atau hadits sebelum khutbah tergolong "baik" jika tidak mengganggu kekhusyukan.
---
2. Shalat Tahiyatul Masjid Saat Imam Berkhutbah
Dalil:
Hadits dari Jabir bin Abdillah:
"Seorang laki-laki datang pada Nabi saat beliau sedang berkhutbah. Nabi bersabda: 'Apakah kamu sudah shalat?' Ia menjawab: 'Belum.' Nabi bersabda: 'Bangun dan shalatlah dua rakaat.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Hukum:
Mazhab Syafi'i dan Hanbali: Disunnahkan shalat tahiyatul masjid, meskipun imam sudah berkhutbah.
Mazhab Hanafi dan Maliki: Makruh dan tidak disyariatkan. Orang yang masuk cukup duduk saja. Berdasarkan hadits:
"Duduklah! Engkau telah menyakiti." (HR. Ahmad) – ditujukan kepada orang yang melangkahi pundak jamaah
Ulama Maliki: Memberi pengecualian bagi orang yang jadi teladan seperti ulama, imam, atau pemimpin.
Pendapat Ulama:
Al-Imam Ibn Qudamah (w. 620 H) dalam Al-Mughni menegaskan bahwa hadits Jabir menunjukkan adanya kelonggaran untuk shalat saat khutbah bagi orang yang baru datang.
---
3. Turun dari Mimbar Menuju Mihrab Setelah Khutbah
Praktik: Imam turun dari mimbar menuju tempat imam shalat setelah khutbah selesai dan muadzin mengumandangkan iqamah.
Hukum:
Mazhab Syafi'i: Disunnahkan segera turun setelah muadzin selesai iqamah, agar ada kesinambungan antara khutbah dan shalat.
Mazhab Hanbali: Imam turun saat muadzin mengucap "qad qāmatiṣ-ṣalāh", lalu segera berdiri untuk shalat.
Adab: Saat naik mimbar, dianjurkan tenang dan khidmat. Saat turun, dianjurkan cepat namun tidak tergesa-gesa
Pendapat Ulama:
Al-Imam Al-Rafi’i (w. 623 H) menyebut dalam Al-‘Aziz bahwa menyambung antara khutbah dan shalat adalah bagian dari kesempurnaan Jum’at.
---
Kesimpulan
Dalam masalah-masalah yang muncul saat khutbah Jum'at, para ulama memiliki perbedaan pendapat berdasarkan istinbat masing-masing terhadap nash dan praktik generasi salaf. Namun, kesamaan mereka terletak pada pentingnya menjaga kekhusyukan, kesinambungan khutbah dengan shalat, serta menghindari hal-hal yang menyibukkan dari mendengarkan khutbah.
Sikap bijak adalah menghormati praktik yang berbeda selama masih dalam kerangka ijtihad ulama mu'tabar, serta menjadikan masjid sebagai tempat persatuan, bukan perpecahan.
---
Referensi:
1. Al-Majmu’, An-Nawawi
2. Al-Mughni, Ibn Qudamah
3. Al-‘Aziz, Al-Rafi’i
4. Shahih Bukhari dan Muslim
5. Fiqh al-Mazahib al-Arba’ah, Abdul Rahman al-Jaziri
________________
Sumber teks arab
الترقية بين يدي الخطيب:
وهي قراءة: {إن الله وملائكته يصلون على النبي} [الأحزاب:٥٦/ ٣٣] وإيراد الحديث المتفق عليه: «إذا قلت لصاحبك أنصت فقد لغوت». وحكمها أنها بدعة لحدوثها بعد الصدر الأول، قيل: لكنها حسنة لما فيها من التذكير بمضمون الحديث والآية، غير أنها مكروهة تحريماً عند أبي حنيفة لحرمة أي كلام بعد صعود الإمام المنبر، وجائزة عند الصاحبين، وبدعة مكروهة عند المالكية إلا إذا شرطها الواقف في كتاب وقفه، وقال الشافعية: هي بدعة حسنة فيها تذكير بخير، وأجاز الحنابلة الكلام قبل الخطبة وفي الجلوس بين الخطبتين.
٢١ - تحية المسجد للداخل والإمام يخطب: سنة عند الشافعية والحنابلة (٣) لما روى جابر قال: جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلم وهو يخطب الناس، فقال: «وصليت يا فلان؟» قال: لا، قال: «قم فاركع» وفي رواية: «فصل ركعتين» (١) وقال صلّى الله عليه وسلم في رواية: «إذا جاء أحدكم والإمام يخطب، فليصل ركعتين» (٢) وماعدا التحية تحرم الصلاة بمجرد صعود الخطيب المنبر، حتى وإن لم يباشر بالخطبة.
وقال أبو حنيفة ومالك (٣): إذا خرج الإمام إلى المنبر فلا صلاة ولا كلام، فلا تصلى تحية المسجد وتكره، وإنما يجلس الداخل ولا يركع؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلم قال للذي جاء يتخطى رقاب الناس: «اجلس، قد آذيت» (٤) وأجاز المالكية التحية لداخل يقتدى به من عالم أو سلطان أو إمام، لا لغيرهم.
١٣ - نزول الإمام عن المنبر: قال الشافعية: يبادر الخطيب بالنزول عن المنبر ليبلغ المحراب، مع فراغ المؤذن من الإقامة، مبالغة في تحقيق الموالاة ما أمكن بين الخطبة والصلاة.
وقال الحنابلة: إذا فرغ الإمام من الخطبة، نزل عند قول المؤذن: قد قامت الصلاة، كما يقوم إلى الصلاة عندهم غير الخطيب حينئذ. ويستحب أن يكون حال صعود الخطيب على تؤدة، وإذا نزل يكون مسرعاً من غير عجلة، مبالغة في الموالاة بين الخطبتين والصل
اة.

.jpeg)
Posting Komentar
0Komentar