Pendahuluan
Basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ) merupakan kalimat yang sangat agung dan selalu hadir dalam kehidupan seorang Muslim, baik dalam ibadah maupun aktivitas keseharian. Di balik lafaz yang singkat ini, tersimpan pembahasan ilmiah yang luas dalam disiplin Ulūmul Qur’an, meliputi persoalan status ayat, perbedaan pendapat para ulama, kaidah penulisan mushaf, hingga makna akidah yang mendalam. Oleh karena itu, para ulama menegaskan bahwa faedah-faedah basmalah tidak boleh diabaikan dan patut untuk dipahami secara ilmiah.
Kedudukan Basmalah sebagai Ayat Al-Qur’an
Salah satu pembahasan utama dalam Ulūmul Qur’an adalah status basmalah sebagai ayat Al-Qur’an. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:
* Imam asy-Syafi‘i berpendapat bahwa basmalah adalah satu ayat dari Surah Al-Fātiḥah dan juga ayat di awal setiap surah.
* Imam Malik berpendapat bahwa basmalah bukan ayat dari Surah Al-Fātiḥah dan juga bukan ayat pada awal surah-surah lainnya.
* Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa basmalah adalah ayat dari awal Surah Al-Fātiḥah, namun bukan ayat pada surah selainnya.
Perbedaan ini berdampak pada beberapa cabang fikih, khususnya dalam bacaan shalat. Namun demikian, perbedaan tersebut merupakan khilafiyah yang mu‘tabar dan telah dibahas secara luas dalam kitab-kitab fikih dan tafsir.
Penjelasan Imam as-Suyūṭī tentang Basmalah
Imam Jalāluddīn as-Suyūṭī رحمه الله dalam karyanya Al-Itqān fī ‘Ulūmil Qur’ān menjelaskan bahwa perbedaan pendapat mengenai basmalah merupakan perbedaan yang sah dan bersumber dari praktik para sahabat serta perbedaan dalam metode penghitungan ayat (‘addu al-āy). Menurut beliau, penulisan basmalah secara konsisten di dalam Mushaf Utsmani di awal setiap surah—kecuali Surah At-Taubah—menunjukkan bahwa basmalah merupakan bagian dari Al-Qur’an secara ijmali, meskipun ulama berbeda pendapat mengenai kedudukannya sebagai ayat dalam setiap surah.
Imam as-Suyūṭī juga menjelaskan bahwa basmalah berfungsi sebagai pemisah antar surah, sekaligus sebagai tanda dimulainya wahyu baru. Selain itu, basmalah mengandung permohonan pertolongan kepada Allah serta penegasan bahwa seluruh isi Al-Qur’an bersumber dari Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Kekhususan Nama Ar-Raḥmān
Dalam kajian bahasa Al-Qur’an, para ulama menjelaskan bahwa lafaz Ar-Raḥmān dengan alif dan lam (الـ) merupakan nama yang khusus bagi Allah Ta‘ala dan tidak digunakan secara mutlak untuk selain-Nya dalam bahasa Arab. Meskipun kata raḥmān pernah dinisbatkan kepada selain Allah dalam bentuk mudhaf, seperti sebutan Raḥmān al-Yamāmah untuk Musailamah al-Każżāb, penggunaan *Ar-Raḥmān secara ma‘rifah dan mutlak tetap menjadi kekhususan Allah Ta‘ala.
Imam as-Suyūṭī menegaskan bahwa penggabungan antara lafaz Allah, Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm dalam basmalah mengandung pengajaran akidah yang mendalam: Allah menunjukkan Dzat, sementara Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm menunjukkan keluasan dan kesinambungan rahmat-Nya, baik yang bersifat umum maupun khusus bagi orang-orang beriman.
Kaidah Penulisan Basmalah dalam Mushaf
Basmalah juga menjadi objek kajian penting dalam rasm Al-Qur’an. Kata اسم dalam basmalah ditulis tanpa alif sehingga menjadi بسم. Penghapusan alif ini bersifat khusus pada basmalah, karena alif tersebut dianggap telah tercukupi oleh huruf ba’ isti‘anah (باء الاستعانة). Hal ini berbeda dengan ayat lain seperti firman Allah Ta‘ala:
“Iqra’ bismi rabbika alladzī khalaq”
Pada ayat tersebut, kata اسم tetap ditulis dengan alif. Selain itu, alif pada kata الرحمن juga dihilangkan karena masuknya alif dan lam (الـ), sesuai dengan kaidah penulisan dalam rasm Al-Qur’an.
Basmalah sebagai Landasan Adab dan Amal
Imam as-Suyūṭī juga menekankan bahwa basmalah bukan hanya bagian dari bacaan Al-Qur’an, tetapi juga merupakan landasan adab dalam kehidupan seorang Muslim. Banyak hadis dan atsar menunjukkan anjuran membaca basmalah dalam berbagai aktivitas sebagai bentuk penyandaran amal kepada Allah dan pengharapan terhadap rahmat-Nya. Dengan demikian, basmalah berfungsi sebagai penghubung antara ilmu, amal, dan pembinaan kepribadian seorang Muslim.
Penutup
Dari seluruh uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa basmalah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Ulūmul Qur’an. Ia mencakup pembahasan fikih, bahasa, rasm Al-Qur’an, dan akidah, serta menjadi pintu masuk bagi seorang Muslim untuk memahami Al-Qur’an secara lebih mendalam. Penjelasan para ulama, khususnya Imam as-Suyūṭī, menunjukkan bahwa basmalah bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan inti pengajaran tauhid, rahmat, dan adab dalam Islam.
_______________
Catatan: Sumber artikel
1. Imam As Suyuthi: Al-Itqān fī ‘Ulūmil Qur’ān
2. Muhyiddin Durais : I'robul Qur'an wa bayanuhu
Teks Asli
في البسملة فوائد لا يجوز الجهل بها ومنها:
آ- اعلم أن البسملة آية من سورة الحمد وآية من أوائل كل سورة عند الشافعي وليست آية في كل ذلك عند مالك وعند أبي حنيفة وأحمد بن حنبل هي آية من أول الفاتحة وليست آية في غير ذلك، والاحتجاج لذلك مبسوط في كتب الفقه والتفسير فارجع إليها.
ب- لم يوصف بالرحمن في العربية بالألف واللام إلا الله تعالى، وقد نعتت العرب مسيلمة الكذاب به مضافا فقالوا: رحمان اليمامة.
قال شاعر منهم يمدح مسيلمة:
سموت بالمجد يا ابن الأكرمين أبا ... وأنت غيث الورى لا زلت رحمانا
ح- تكتب بسم الله بغير ألف في البسملة خاصة استغناء عنها بباء الاستعانة بخلاف قوله تعالى: «اقرأ باسم ربك الذي خلق» .
د- تحذف الألف من الرحمن لدخول الألف واللام عليها


Posting Komentar
0Komentar