Salah satu persoalan mendasar manusia adalah ketiadaan kesadaran terhadap waktu dan tanggung jawab yang melekat padanya. Banyak orang hidup tanpa benar-benar menyadari kewajiban, batas waktu, dan tujuan hidupnya. Karena itulah, penjelasan Imam asy-Syafi‘i رحمه الله terhadap Surah Al-‘Ashr menjadi sangat dalam dan relevan sepanjang zaman.
Imam asy-Syafi‘i bahkan memiliki ungkapan yang masyhur:
“Seandainya manusia mentadabburi Surah Al-‘Ashr saja, niscaya itu sudah mencukupi bagi mereka.”
Sumpah Allah atas Waktu
Allah Ta‘ala membuka Surah Al-‘Ashr dengan sumpah:
وَالْعَصْرِ
“Demi waktu.”
Sumpah ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya waktu. Setelah itu, Allah menegaskan dengan bentuk penekanan (taukid):
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
Kalimat ini bersifat pasti dan menyeluruh. Artinya, kerugian adalah kondisi umum manusia, bukan kemungkinan, bukan pengecualian, tetapi kepastian.
Kerugian yang Pasti, Kecuali…
Namun Allah memberi pengecualian:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Menariknya, para ulama menjelaskan bahwa kerugian disebut dengan kalimat yang menunjukkan kepastian, sedangkan pengecualian datang dengan bentuk perbuatan (fi‘liyah), seakan-akan menunjukkan bahwa orang yang selamat dari kerugian itu sedikit.
Mengapa manusia pasti merugi?
Karena semua manusia diberi modal yang sama: waktu. Namun cara memanfaatkannya berbeda:
* Ada yang menggunakan waktunya untuk kebaikan → beruntung
* Ada yang menggunakan waktunya untuk keburukan atau kesia-siaan → rugi
Pilihan hidup sejatinya hanya dua: untung atau rugi.
Mayoritas manusia terjatuh dalam kerugian karena:
* Lalai
* Santai berlebihan
* Menghabiskan waktu untuk hal sia-sia
* Tidak merasa bertanggung jawab terhadap waktu
Iman dan Amal Saleh: Kunci Keluar dari Kerugian
Orang-orang yang beriman tidak rugi karena mereka:
* Menyadari bahwa waktu adalah amanah
* Mengisinya dengan amal saleh
* Hidup dengan tujuan dan tanggung jawab
Sedangkan orang yang tidak beriman, atau beriman namun tidak mengisi waktunya dengan ketaatan, tetap berada dalam kerugian.
Mengapa Butuh Jamaah dan Teman?
Surah Al-‘Ashr tidak berhenti pada iman dan amal saleh, tetapi dilanjutkan dengan:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Ini menunjukkan satu hakikat penting:
👉 Istiqamah tidak bisa dilakukan sendirian.
Manusia butuh:
* Teman
* Jamaah
* Lingkungan yang saling menasihati
Tanpa itu, sangat sulit bagi seseorang untuk terus berada di jalan yang benar. Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran adalah sarana agar seseorang:
* Tetap taat
* Tidak menyia-nyiakan waktu
* Terhindar dari kerugian
Penutup
Pesan Imam asy-Syafi‘i sangat jelas:
Jika seseorang benar-benar memahami dan mengamalkan Surah Al-‘Ashr, itu sudah cukup sebagai pedoman hidup.
Surah ini merangkum:
* Hakikat waktu
* Kerugian manusia
* Jalan keselamatan
* Pentingnya iman, amal, dan kebersamaan dalam kebenaran
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menghargai waktu, mengisinya dengan ketaatan, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, sehingga kita terhindar dari kerugian. Aamiin.
______________
Catatan: Sumber Materi di ambil dari kajian KH. Hafidz Abdurrahman di Chanel pribadi beliau.


Posting Komentar
0Komentar