Ilmu menempati posisi yang sangat tinggi dalam Islam. Ia bukan sekadar alat untuk mengetahui hukum, tetapi jalan menuju kemuliaan, pengangkat derajat, dan pembeda antara kebenaran dan kebodohan. Karena itulah para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf memberikan perhatian luar biasa terhadap ilmu—baik dalam menuntut maupun mengajarkannya.
Merendah Saat Menuntut, Mulia Saat Ilmu Dicari
Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata:
ذللتُ طالبًا فعززتُ مطلوبًا
“Aku merendahkan diri ketika menuntut ilmu, maka aku pun dimuliakan saat ilmu itu dicari dariku.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa jalan ilmu memang diawali dengan kerendahan hati. Siapa yang sabar belajar, meski harus menahan lelah dan ego, kelak akan Allah angkat derajatnya. Tidak heran jika Ibnu Abi Mulaikah رحمه الله berkata bahwa ia tidak pernah melihat sosok seperti Ibnu Abbas: wajahnya paling elok, lisannya paling fasih, dan ilmunya paling luas.
Keanehan Orang yang Tidak Mencari Ilmu
Abdullah bin المبارك رحمه الله dengan nada heran berkata:
“Aku heran terhadap orang yang tidak menuntut ilmu, bagaimana mungkin jiwanya menginginkan kemuliaan?”
Bahkan sebagian ahli hikmah mengatakan, ada dua orang yang patut dikasihani:
1. Orang yang menuntut ilmu tetapi tidak memahaminya.
2. Orang yang mampu memahami ilmu tetapi tidak mau menuntutnya.
Keduanya sama-sama terhalang dari kesempurnaan.
Ilmu Lebih Mulia dari Ibadah Sunnah
Abu Darda’ رضي الله عنه berkata:
“Aku mempelajari satu masalah ilmu lebih aku cintai daripada shalat malam semalam suntuk.”
Beliau juga menegaskan bahwa orang berilmu dan penuntut ilmu adalah dua mitra dalam kebaikan, sementara manusia selain mereka hanyalah pengikut tanpa arah. Karena itu ia berpesan:
“Jadilah orang berilmu, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu. Jangan menjadi yang keempat, niscaya engkau binasa.”
Umar bin Khaththab رضي الله عنه bahkan menegaskan bahwa wafatnya seribu ahli ibadah lebih ringan dibanding wafatnya seorang alim yang memahami halal dan haram Allah. Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah penjaga agama, sedangkan ibadah tanpa ilmu mudah tersesat.
Imam Syafi’i رحمه الله menegaskan prinsip besar ini:
طلب العلم أفضل من النافلة
“Menuntut ilmu lebih utama daripada ibadah sunnah.”
Niat yang Benar Mengubah Aktivitas Menjadi Ibadah
Ibnu Abdil Hakam رحمه الله mengisahkan, ketika ia belajar kepada Imam Malik lalu bersiap meninggalkan majelis untuk shalat sunnah, Imam Malik berkata:
“Apa yang sedang engkau lakukan tadi lebih utama daripada yang akan engkau lakukan, jika niatmu benar.”
Ini menegaskan bahwa belajar dan mengajar ilmu—dengan niat yang lurus—adalah ibadah agung.
Menuntut Ilmu adalah Jihad
Abu Darda’ رضي الله عنه berkata:
“Barang siapa mengira bahwa pergi menuntut ilmu bukanlah jihad, maka sungguh telah berkurang akal dan pandangannya."
Karena ilmu adalah senjata umat, cahaya dakwah, dan pondasi perbaikan masyarakat.
Kewajiban Mengajarkan Ilmu
Allah ﷻ berfirman:
وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
(QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini menegaskan kewajiban sebagian umat untuk mendalami ilmu lalu kembali mengajarkannya kepada masyarakat.
Allah juga berfirman:
لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ
(QS. Ali ‘Imran: 187)
Ini adalah peringatan keras agar ilmu tidak disembunyikan, tetapi disampaikan demi menjaga agama dan umat.
Penutup
Ilmu adalah jalan kemuliaan, penopang ibadah, dan fondasi dakwah. Ia lebih utama daripada ibadah sunnah, lebih berat nilainya daripada banyak amal tanpa pemahaman, dan lebih dibutuhkan umat daripada sekadar bantuan sesaat.
Maka siapa pun yang menginginkan kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat, hendaknya ia **menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mengajarkannya**—dengan niat yang ikhlas karena Allah ﷻ.


Posting Komentar
0Komentar