Manusia Hanyalah Tamu di Dunia
Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukan tempat tinggal yang kekal, melainkan tempat singgah sementara. Manusia datang dan pergi sesuai ketetapan Allah SWT.
Allah berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan yang kekal hanyalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Rahman: 26–27)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada yang abadi di dunia, termasuk manusia dan seluruh kepemilikannya. Maka, posisi manusia hakikatnya hanyalah tamu yang menunggu waktu kembali.
Harta Adalah Titipan dan Amanah dari Allah
Harta sering kali membuat manusia lupa diri, seolah-olah ia pemilik mutlak. Padahal Islam menegaskan bahwa harta hanyalah titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Allah SWT berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ
“Dan infakkanlah sebagian dari harta yang Allah telah menjadikan kamu sebagai pengelolanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)
Kata mustakhlafîn dalam ayat ini menunjukkan bahwa manusia hanya pengelola, bukan pemilik sejati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini memperjelas bahwa harta bukan hanya nikmat, tetapi juga ujian.
Dunia Bukan Tujuan, Tetapi Sarana
Islam tidak melarang mencari harta. Namun, Islam menolak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.
Allah SWT berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al-Hadid: 20)
Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:
“Dunia itu seperti bayangan. Jika engkau mengejarnya, ia akan menjauh. Jika engkau berpaling darinya, ia akan mengikutimu.”
Perkataan ini mengajarkan keseimbangan: dunia dicari secukupnya, akhirat diprioritaskan sepenuhnya.
Sikap Seorang Mukmin terhadap Harta
Seorang mukmin yang sadar bahwa dirinya hanyalah tamu akan memiliki sikap zuhud, yakni tidak terikat hatinya pada dunia.
Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata:
“Zuhud di dunia bukan berarti mengharamkan yang halal, tetapi mengosongkan hati dari ketergantungan kepada dunia.”
Dengan sikap ini, seseorang:
* tidak sombong saat kaya,
* tidak putus asa saat miskin,
* dan selalu menggunakan hartanya dalam ketaatan.
Bekal Terbaik saat Pulang kepada Allah
Setiap tamu pasti akan kembali. Yang dibawa bukanlah rumah, kendaraan, atau harta, melainkan amal perbuatan.
Allah SWT berfirman:
وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا
“Amal-amal saleh yang kekal itulah yang lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu.”
(QS. Al-Kahfi: 46)
Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, berkuranglah bagian dari dirimu.”
Penutup
Kesadaran bahwa kita hanyalah tamu di dunia dan bahwa harta hanyalah titipan akan membentuk cara hidup yang lebih bijak. Dunia dijalani dengan tanggung jawab, bukan dengan keserakahan. Harta dimanfaatkan sebagai sarana kebaikan, bukan tujuan utama.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang amanah, mampu menjaga titipan-Nya, dan kembali kepada-Nya dengan bekal amal terbaik.


Posting Komentar
0Komentar