Di tengah maraknya semangat beragama hari ini, ada satu fenomena yang patut direnungkan bersama: banyak orang mengaku bertuhan kepada Allah, rajin beribadah, tetapi menolak Allah sebagai pengatur kehidupan. Allah diakui sebagai Ilāh, namun disingkirkan sebagai Rabb.
Fenomena ini bukan hal baru, tetapi bentuknya kini jauh lebih halus dan sistemik.
Ilāh Diterima, Rabb Ditolak
Ilāh berarti yang disembah. Maka tidak heran jika masjid penuh, ibadah ramai, simbol-simbol Islam dijunjung tinggi. Namun ketika Islam berbicara tentang hukum, aturan hidup, sistem sosial, ekonomi, dan keadilan, tiba-tiba agama diminta “menepi”.
Seolah-olah Allah hanya berhak disembah, tetapi tidak berhak mengatur.
Padahal Al-Qur’an menegaskan:
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
“Ingatlah, mencipta dan mengatur hanyalah milik Allah.” (QS. al-A‘rāf: 54)
Mengakui Allah sebagai Pencipta tetapi menolak aturan-Nya adalah kontradiksi akidah yang serius.
Kesalahan Cara Pandang terhadap Tauhid
Sebagian orang mengira tauhid cukup dengan shalat, puasa, dan ibadah ritual. Padahal tauhid bukan hanya soal sujud, tetapi juga soal ketaatan total.
Allah bukan hanya Tuhan di sajadah, tetapi juga Tuhan dalam:
* hukum dan keadilan,
* ekonomi dan muamalah,
* sosial dan politik,
* halal dan haram.
Ketika hukum manusia lebih ditaati daripada hukum Allah, maka saat itu Rubūbiyyah Allah sedang disangkal, meskipun lisan tetap mengucapkan “Allahu Akbar”.
Ironi Umat Akhir Zaman
Kaum musyrik Quraisy dahulu mengakui Allah sebagai Rabb pencipta langit dan bumi, namun mereka menyekutukan-Nya dalam ibadah.
Sementara sebagian umat hari ini justru mengakui Allah dalam ibadah, tetapi menolak-Nya dalam pengaturan kehidupan.
Allah berfirman:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
“Jika engkau bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab: Allah.” (QS. Luqmān: 25)
mereka tidak mengingkari keberadaan Allah dan tidak menganggap berhala sebagai pencipta.
Juga dijelaskan dalam surat Az Zumar
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
“Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.”
(QS. az-Zumar: 3).
Ibnu Katsir رحمه الله dalam tafsir QS. az-Zumar: 3, beliau berkata (maknanya):
“Orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, tetapi mereka menyekutukan-Nya dalam ibadah.”
(Tafsīr Ibn Kathīr)
Ini ironi besar.
Allah SWT berfirman:
أفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki?” (QS. al-Mā’idah: 50)
Agama Dipersempit, Islam Dijinakkan
Ketika Allah tidak lagi dijadikan Rabb, maka Islam dipersempit menjadi:
* urusan pribadi,
* ritual tanpa dampak sosial,
* nasihat moral tanpa kekuatan hukum.
Inilah Islam yang “aman” bagi sistem yang menolak hukum Allah. Islam yang tidak mengganggu ketidakadilan, tidak mengusik kezhaliman, dan tidak menantang kesewenang-wenangan.
Padahal Islam datang sebagai rahmat dan sistem hidup, bukan sekadar simbol spiritual.
Seruan Dakwah: Kembalikan Allah sebagai Rabb
Dakwah hari ini tidak cukup hanya mengajak shalat dan puasa—meski itu penting—tetapi juga harus mengajak umat untuk:
* tunduk kepada hukum Allah,
* menjadikan syariat sebagai pedoman hidup,
* mengembalikan Islam sebagai aturan kehidupan, bukan sekadar identitas.
Sebagaimana firman Allah:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ(QS. al-Aḥzāb: 36)
Penutup
Mengakui Allah sebagai Ilāh tetapi menolak-Nya sebagai Rabb bukanlah tauhid yang utuh. Itu adalah agama tanpa ketaatan, ibadah tanpa konsekuensi, dan iman tanpa keberanian.
Sudah saatnya dakwah mengingatkan kembali bahwa Allah bukan hanya Tuhan ya
ng disembah, tetapi Rabb yang ditaati dan dijadikan sumber hukum kehidupan.
Wallāhu a‘lam.



Posting Komentar
0Komentar