Antara Retorika Perubahan dan Konsistensi Perjuangan
Betapa banyak manusia termasuk para pemikir dan aktivis berbicara tentang perubahan. Namun, tidak sedikit dari mereka berhenti pada tataran wacana dan slogan. Padahal, hakikat perubahan bukan sekadar dibicarakan, melainkan diwujudkan melalui amal nyata yang konsisten, penuh resiko, dan dilandasi keikhlasan.
Islam tidak dibangun di atas teori kosong. Ia ditegakkan dengan iman, amal, pengorbanan, dan istiqamah. Oleh karena itu, perubahan menuju tegaknya nilai-nilai Islam dalam kehidupan meniscayakan keterlibatan nyata di tengah masyarakat, kesabaran menghadapi rintangan, dan keberanian menanggung konsekuensi dakwah.
Perubahan Tidak Cukup dengan Wacana
Perubahan sejati tidak lahir dari ruang diskusi yang steril dari resiko. Ia lahir dari perjumpaan langsung dengan realitas, dari kesabaran menghadapi penolakan, tekanan, bahkan ancaman.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. ar-Ra‘d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan menuntut gerak aktif, bukan sekadar harapan dan retorika.
Istiqamah Bukan Sekadar Bertahan di Zona Aman
Di antara penyakit dakwah adalah apa yang bisa disebut sebagai pseudo istiqamah tampak konsisten, namun hakikatnya stagnan. Terus melakukan aktivitas yang aman, nyaman, dan jauh dari resiko, tetapi tidak membawa dakwah mendekati tujuannya.
Istiqamah bukan sekadar terus bergerak, tetapi bergerak ke arah yang benar, meski jalannya berat dan penuh rintangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.” (HR. Muslim)
Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan:
الاستقامة هي سلوك الصراط المستقيم وهو الدين القويم من غير انحراف
“Istiqamah adalah menempuh jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri.”
(Syarh Shahih Muslim)
Artinya, istiqamah menuntut komitmen pada kebenaran, bukan sekadar kontinuitas aktivitas.
Imam Ibnu Rajab Al hanbali juga mengatakan:
“الاستقامة هي سلوك الصراط المستقيم، وهو الدين القويم من غير تعريج عنه يمنة ولا يسرة…”
— yaitu meniti jalan yang lurus dan tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri, mencakup melakukan segala ketaatan dan menjauhi segala larangan.
Keikhlasan Teruji Saat Resiko Datang
Keikhlasan tidak diuji saat dakwah berjalan mulus. Ia justru tampak jelas ketika seorang da’i tetap melangkah walaupun terancam, ditekan, dan disakiti.
Allah ﷻ berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan mengatakan ‘kami beriman’ sementara mereka tidak diuji?”
(QS. al-‘Ankabut: 2)
Imam al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:
إن هذا الأمر لا يُنال بالتمني ولكن بالصبر والمصابرة
“Sesungguhnya perkara (agama) ini tidak diraih dengan angan-angan, tetapi dengan kesabaran dan keteguhan.”
Analoginya seperti seseorang yang ingin membebaskan seorang Muslim dari penjara yang dijaga ketat, namun ia hanya berputar-putar di luar tembok penjara karena takut pada para penjaga. Ia tampak sibuk, tetapi tidak mendekatkan pada tujuan.
Kejujuran dan Istiqamah Sejati
Kejujuran sejati tidak terlihat ketika jujur tidak beresiko. Ia baru terbukti ketika kejujuran itu mengancam keselamatan diri.
Begitu pula istiqamah. Ia bukan sekadar bertahan dalam suasana kondusif, melainkan tetap berjalan di atas kebenaran walau badai menghadang.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
بالصبر واليقين تُنال الإمامة في الدين
“Dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam agama dapat diraih.”
(Majmū‘ al-Fatāwā)
Bersama Orang-Orang yang Benar
Karena itu, Allah ﷻ memerintahkan kaum beriman untuk menjaga ketakwaan dan memilih barisan yang lurus:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar.”
(QS. at-Taubah: 119)
Ayat ini bukan sekadar perintah moral, tetapi arahan strategis: istiqamah dan keikhlasan hanya bisa terjaga bila seseorang berada dalam barisan orang-orang yang jujur, teguh, dan berani membayar harga kebenaran.
Penutup
Pseudo istiqamah adalah ilusi: tampak bergerak namun hakikatnya diam. Sedangkan istiqamah sejati adalah terus melangkah di jalan kebenaran, walau penuh luka, air mata, dan pengorbanan—semata-mata karena Allah. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, istiqamah, dan tidak tertipu oleh kesibukan yang jauh dari tujuan dakwah.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ
____________
Catatan: Tulisan dikembangkan dari tulisan KH.Syamsudin Ramadhan


Posting Komentar
0Komentar