Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ramadan adalah bulan yang penuh kemuliaan, bulan yang kedatangannya senantiasa dinanti oleh kaum Muslimin di seluruh dunia. Ia bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriah, tetapi momentum agung yang sarat dengan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Dalam hadis yang masyhur, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan ini Allah Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya, mengampuni dosa-dosa hamba-Nya, serta melipatgandakan pahala setiap amal kebaikan. Setiap detik di dalamnya adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ramadan juga menghadirkan suasana kebersamaan yang khas. Kaum Muslimin bersama-sama menahan lapar dan dahaga di siang hari, lalu merasakan kebahagiaan ketika berbuka. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, lantunan Al-Qur’an terdengar di berbagai penjuru, dan semangat berbagi kepada sesama semakin menguat. Secara fitrah, Ramadan adalah bulan persatuan—bulan di mana umat merasakan denyut spiritual yang sama.
Ramadan dan Makna Persatuan
Pada asalnya, Ramadan merupakan momentum persatuan puasa bagi seluruh kaum Muslimin. Umat Islam, yang disatukan oleh akidah, kiblat, dan kitab yang sama, seharusnya juga bersatu dalam mengawali dan mengakhiri ibadah puasa.
Namun realitas yang terjadi di banyak tempat setiap tahunnya justru menunjukkan perbedaan dalam memulai dan mengakhiri Ramadan. Di sebagian wilayah, kaum Muslimin telah berpuasa, sementara di wilayah lain masih menunggu. Ada yang berhari raya, sementara yang lain masih berpuasa. Pemandangan ini sering kali menimbulkan kebingungan dan rasa sedih di tengah umat.
Perbedaan ini terkadang bukan semata-mata disebabkan oleh pertimbangan syar’i atau ilmiah, tetapi juga dipengaruhi oleh batas-batas negara dan sistem politik yang memisahkan satu negeri dari negeri lainnya. Padahal, umat Islam pada hakikatnya adalah satu tubuh, sebagaimana yang diajarkan dalam banyak nash syariat.
Tuntunan Nabi ﷺ tentang Hilal
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal), dan berbukalah kalian karena melihatnya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa dasar penentuan awal dan akhir Ramadan adalah rukyat (melihat hilal). Dalam praktiknya, Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk berpuasa dan berbuka berdasarkan kesaksian melihat hilal dari seorang Muslim yang terpercaya, tanpa mempersoalkan asal suku atau wilayahnya.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa apabila hilal telah terlihat di suatu tempat oleh kaum Muslimin yang memenuhi syarat kesaksian, maka seluruh kaum Muslimin wajib berpuasa atau berbuka berdasarkan rukyat tersebut.
Adapun ulama yang berpendapat adanya perbedaan mathla’ (perbedaan tempat terbit hilal), mereka mendasarkannya pada pertimbangan ilmiah terkait posisi dan peredaran bulan. Perbedaan tersebut lahir dari ijtihad fiqih yang memiliki landasan ilmiah dan syar’i. Namun, perbedaan itu bukanlah untuk melegitimasi perpecahan berdasarkan garis batas politik atau warisan penjajahan.
Fenomena Perbedaan di Era Modern
Di era modern, muncul fenomena yang sering dipertanyakan: sebuah negara yang wilayahnya sangat luas—bahkan membentang seperti satu benua—dapat menetapkan satu awal Ramadan yang sama. Namun di wilayah lain yang secara geografis berdekatan dan jauh lebih kecil, justru terjadi perbedaan penetapan awal puasa.
Hal ini menimbulkan pertanyaan di tengah umat: sejauh mana pertimbangan ilmiah dan syar’i digunakan, dan sejauh mana faktor administratif atau politik turut berperan?
Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan kerinduan sebagian kaum Muslimin terhadap persatuan yang lebih nyata dalam pelaksanaan syariat, termasuk dalam ibadah puasa.
Harapan akan Persatuan Umat
Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan nilai persaudaraan, kesatuan, dan kepedulian. Ia adalah bulan yang mengingatkan bahwa kaum Muslimin adalah satu umat. Perbedaan ijtihad adalah bagian dari khazanah fiqih Islam, namun semangat persatuan harus tetap dijaga.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar menyatukan hati-hati kaum Muslimin, menghilangkan permusuhan dan sekat-sekat yang memisahkan, serta menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Semoga puasa kita semakin berkualitas, ibadah kita semakin diterima, dan kebersamaan kita semakin kokoh. Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.
Wallahu a’lam bish-shawab.


Posting Komentar
0Komentar