Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita untuk melaksanakan saum Ramadan, disampaikan pula bahwa tujuan dari diwajibkannya puasa itu tak lain adalah untuk takwa. Minimal ada dua hal yang menjadi perhatian dalam menjalani kehidupan.
Pertama : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang memberikan petunjuk yang sangat jelas. Pertama, tentang bagaimana kita mesti menjalani kehidupan dunia yang sangat sementara ini. Semua orang tahu bahwa manusia, siapapun dan hidup di manapun, tidak akan pernah hidup selama-lamanya. Cepat atau lambat, dia akan mati. Persoalannya adalah bagaimana cara menjalani kehidupan yang sebentar itu?
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita petunjuk yang sangat jelas bahwa kita harus menjalani kehidupan di dunia yang sebentar ini dengan takwa, dengan jalan takwa. Takwa itu diartikan oleh para ulama sebagai fi‘lul wajibat wa tarkul muharramat—melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang dilarang atau diharamkan.
Dengan begitu, kita menjadi tahu bagaimana menjalani kehidupan ini. Kita menjalani kehidupan dengan satu tolok ukur yang sangat jelas: halal dan haram. Kita diminta untuk meninggalkan yang haram dan melakukan yang diwajibkan.
Dengan demikian, sesungguhnya Allah telah memberikan sebuah petunjuk yang sangat jelas tentang ke mana sebenarnya arah kehidupan seorang muslim. Kehidupan seorang muslim adalah kehidupan yang penuh dengan nilai ibadah, yang ujungnya adalah takwa.
Inilah sesuatu yang hari ini justru menjadi persoalan besar bagi manusia di manapun dalam kehidupannya. Film *Stand Up* itu mengungkap sisi gelap peradaban kapitalis, peradaban material yang gagal memberikan arah kehidupan kepada manusia. Mereka tidak memiliki tolok ukur yang jelas: halal dan haram.
Ketika kekuasaan ada di tangan, kekayaan ada di tangan, popularitas ada di tangan, apa lagi yang harus mereka capai? Tidak ada lagi. Maka kemudian semua itu digunakan untuk memuaskan hawa nafsu melalui kegiatan yang na’udzubillah min dzalik, jauh lebih rendah daripada hewan.
Kemudian yang kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga sedang memberikan arah yang sangat jelas tentang ke mana kita akan menuju setelah kematian. Melalui keterangan dalam ayat yang lain:
“Wasiqalladzina ittaqau rabbahum ilal jannati zumara.”
Artinya, dengan takwa itulah kita akan menuju satu titik yang sesungguhnya sangat diharapkan oleh siapapun, yaitu surga Allah. Hanya saja, untuk mencapai ke sana, alat atau sarananya cuma satu: takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan itulah tempat yang disebut oleh Allah sebagai sebaik-baik tempat kembali, ni‘mal mashir. Ia menghindarkan kita dari tempat yang disebut oleh Allah sebagai seburuk-buruk tempat kembali, bi’sal mashir, yaitu neraka Allah.
Karena itulah, puasa ini bukan sekadar menahan rasa lapar, dahaga, dan segala yang membatalkan puasa. Sesungguhnya puasa ini sedang memberikan arah bagi kehidupan kita—kehidupan keluarga kita, kehidupan masyarakat dan negara, bahkan kehidupan dunia.
puasa ini bukan sekadar menahan rasa lapar, dahaga, dan segala yang membatalkan puasa. Sesungguhnya puasa ini sedang memberikan arah bagi kehidupan kita—kehidupan keluarga kita, kehidupan masyarakat dan negara, bahkan kehidupan dunia.
Karena itu, Ramadan sangat penting untuk kita hayati dengan sungguh-sungguh agar ia memberikan dampak yang amat sangat dalam, sekaligus memberikan pengaruh yang sangat penting bagi arah kehidupan kita dan kehidupan umat manusia.
Insyaallah, mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan saum Ramadan dengan sebaik-baiknya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Posting Komentar
0Komentar