Ustadz.Ismail Yusanto
(Rangkuman dan penyempurnaan Isi Ceramah)
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dalam pandangan Islam, nilai seorang Muslim di hadapan Allah Subhanahu wa Ta‘ala sesungguhnya sangatlah tinggi. Kemuliaan ini tampak jelas dari sabda Rasulullah ﷺ yang menggambarkan betapa berharganya nyawa seorang Muslim.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang Muslim. Hadis ini menunjukkan betapa agungnya nilai kehidupan seorang mukmin di hadapan Allah.
Namun realitas yang kita saksikan hari ini justru sangat berbeda.
Murahnya Nyawa Kaum Muslimin di Mata Dunia
Di berbagai penjuru dunia, khususnya di Palestina, kita menyaksikan setiap hari jatuhnya korban dari kalangan kaum Muslimin. Di Gaza, misalnya, bukan hanya satu atau dua orang yang terbunuh. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang menjadi korban kekerasan dan peperangan.
Ironisnya, tragedi kemanusiaan ini seringkali tidak mendapatkan perhatian yang sebanding dari dunia internasional. Seolah-olah nyawa kaum Muslimin tidak memiliki nilai yang tinggi.
Bandingkan jika seorang warga dari negara-negara besar terbunuh di suatu tempat. Peristiwa tersebut dengan cepat menjadi sorotan global dan memicu berbagai reaksi politik serta media. Namun ketika yang menjadi korban adalah kaum Muslimin, banyak pihak yang justru menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
Padahal dalam pandangan Islam, nyawa seorang Muslim memiliki nilai yang sangat tinggi.
Kehormatan Nyawa Seorang Muslim
Dalam sebuah riwayat lain disebutkan bahwa kehancuran Ka'bah lebih ringan dibandingkan dengan terbunuhnya seorang Muslim. Padahal Ka'bah merupakan tempat paling suci dalam Islam.
Hal ini menunjukkan betapa besar kehormatan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada seorang mukmin.
Jika terbunuhnya satu orang Muslim saja begitu berat nilainya di sisi Allah, maka bagaimana dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan kaum Muslimin yang kehilangan nyawa mereka?
Tentu ini adalah tragedi besar yang seharusnya menggugah hati nurani umat manusia.
Kelemahan Umat Tanpa Pelindung
Salah satu sebab utama yang menjelaskan kondisi tragis ini adalah lemahnya posisi umat Islam di dunia saat ini. Umat Islam tidak lagi memiliki pelindung yang kuat sebagaimana yang pernah mereka miliki di masa lalu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Artinya:
"Imam (pemimpin) adalah perisai. Kaum Muslimin berperang di belakangnya dan berlindung dengannya."
Hadis ini menjelaskan bahwa keberadaan seorang pemimpin umat berfungsi sebagai perisai yang melindungi kaum Muslimin.
Ketika pelindung ini tidak ada, maka umat menjadi lemah dan mudah menjadi sasaran penindasan.
Pelajaran dari Sejarah Islam
Sejarah Islam mencatat kisah yang sangat terkenal pada masa Khalifah Al-Mu‘tasim Billah. Dikisahkan bahwa seorang perempuan Muslimah di kota Amuriyah diganggu oleh seorang kafir. Dalam keadaan tertindas, ia berteriak:
“Wā Mu‘taṣimāh!”
"Wahai Mu‘tasim, di manakah engkau?"
Teriakan ini sampai kepada Khalifah Al-Mu‘tasim. Mendengar hal itu, beliau segera mengirimkan pasukan besar untuk membela kehormatan perempuan tersebut.
Dalam riwayat disebutkan bahwa pasukan yang dikirim begitu besar hingga barisan depannya telah memasuki kota Amuriyah, sementara barisan belakangnya masih berada jauh di Baghdad.
Semua itu dilakukan hanya untuk melindungi satu orang perempuan Muslimah.
Bandingkan dengan kondisi hari ini, ketika bukan hanya satu orang, tetapi ribuan kaum Muslimin mengalami penderitaan dan penindasan.
Dunia yang Dikuasai Hukum Kekuatan
Hari ini kita juga menyaksikan perubahan dalam tatanan dunia. Banyak pihak yang menilai bahwa dunia tidak lagi berjalan berdasarkan aturan hukum internasional, tetapi lebih berdasarkan kekuatan dan kepentingan politik.
Dalam kondisi seperti ini, yang kuat seringkali bertindak semena-mena terhadap yang lemah.
Akibatnya, penindasan dan penjajahan terus berlangsung tanpa adanya perlindungan yang memadai bagi korban-korbannya.
Kerinduan Akan Pelindung Umat
Karena itulah muncul kerinduan di kalangan umat Islam terhadap hadirnya kembali pemimpin yang menjadi pelindung bagi umat.
Bukan sekadar kerinduan, tetapi juga kesadaran bahwa umat membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga kehormatan, keamanan, dan hak-hak kaum Muslimin.
Lebih dari itu, kepemimpinan yang adil bukan hanya bermanfaat bagi umat Islam saja, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Sebab keadilan dan perlindungan terhadap yang tertindas adalah nilai universal yang dibutuhkan oleh semua orang.
Penutup
Nilai seorang Muslim di hadapan Allah sangatlah tinggi. Bahkan kehancuran dunia ini lebih ringan dibandingkan dengan terbunuhnya seorang Muslim.
Namun realitas hari ini menunjukkan betapa banyak nyawa kaum Muslimin yang terenggut tanpa mendapatkan perhatian yang layak dari dunia.
Kondisi ini seharusnya menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menyadari pentingnya persatuan, kepemimpinan, dan perjuangan dalam menjaga kehormatan serta melindungi sesama Muslim.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan kekuatan kepada umat ini untuk bangkit kembali dan menegakkan keadilan di muka bumi.
Wallahu a‘lam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Posting Komentar
0Komentar