Pernikahan dalam Islam bukan sekadar ikatan sosial atau formalitas administratif, melainkan ibadah terpanjang dalam kehidupan seorang manusia. Ia bukan hanya dimulai dengan akad, tetapi dijalani sepanjang hayat, bahkan berdampak hingga akhirat. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap pondasi utama dalam membangun rumah tangga, yaitu kesalehan dan ketakwaan.
Pernikahan dan Tujuan Besarnya
Allah ﷻ menjelaskan tujuan pernikahan dalam firman-Nya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. ar-Rūm: 21)
Ayat ini sering dirangkum dengan istilah sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun, ketenangan dan kasih sayang tersebut bukan sesuatu yang instan, melainkan proses panjang yang hanya bisa terwujud jika kedua mempelai memiliki syarat utama: kesalehan pribadi.
Kesalehan Lebih Utama daripada Materi
Dalam Surah an-Nūr ayat 32, Allah ﷻ berfirman:
“Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan orang-orang yang saleh dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan.”*
Ayat ini menegaskan bahwa kriteria utama pernikahan adalah kesalehan, bukan harta, jabatan, atau status sosial. Namun realitas hari ini sering terbalik: banyak orang mempersiapkan pernikahan hanya dari sisi materi, seolah kebahagiaan rumah tangga bergantung pada kekayaan semata.
Padahal, Allah telah memberikan jaminan yang sangat jelas:
“Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.”
(QS. an-Nūr: 32)
Rezeki berada di tangan Allah. Kekurangan materi bukan alasan menunda pernikahan jika kesalehan sudah ada. Bahkan, banyak orang yang memulai pernikahan tanpa apa-apa, namun Allah bukakan pintu rezeki karena ketaatan dan ketakwaan mereka.
Harta Tidak Pernah Abadi
Menariknya, bahkan Abu Thalib, paman Nabi ﷺ yang tidak masuk Islam, pernah mengingatkan tentang rapuhnya harta. Ketika Rasulullah ﷺ hendak menikah dengan Khadijah r.a., Abu Thalib berkata:
“Jika engkau memilih Muhammad karena hartanya, ketahuilah bahwa harta itu hanyalah bayangan yang akan lenyap.”
Ungkapan ini mengandung hikmah besar: harta datang dan pergi, sedangkan kesalehan adalah modal yang menetap dan berbuah jangka panjang.
Pernikahan Bukan Hanya untuk Dunia
Islam memandang pernikahan dengan visi akhirat. Allah ﷻ berfirman dalam Surah ath-Thūr:
“Dan orang-orang yang beriman, yang diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan, Kami hubungkan mereka dengan keturunannya, dan tidak Kami kurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.”
(QS. ath-Thūr: 21)
Ayat ini menjelaskan bahwa kesalehan orang tua menjadi sebab lahirnya keturunan yang saleh, dan bahkan menjadi sarana berkumpul kembali di akhirat. Inilah visi besar pernikahan: bukan hanya hidup bersama di dunia, tetapi menuju surga bersama.
Allah juga berfirman:
“Masuklah ke dalam surga, kamu dan pasangan-pasanganmu dengan penuh kebahagiaan.”
(QS. az-Zukhruf: 70)
Pernikahan adalah Amanah yang Berat
Akad nikah disebut Allah sebagai mīṡāqan ghalīẓā (perjanjian yang kuat dan berat). Istilah ini dalam Al-Qur’an hanya digunakan tiga kali, dan salah satunya adalah untuk pernikahan. Artinya, meski akadnya singkat, konsekuensinya sangat besar.
Apa yang membuat beban ini terasa ringan? Jawabannya adalah takwa.
Allah ﷻ berfirman:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
(QS. al-Baqarah: 197)
Takwa inilah yang melahirkan kesalehan, dan kesalehan inilah yang menjaga rumah tangga tetap kokoh di tengah ujian, badai, dan gelombang kehidupan.
Penutup
Pernikahan bukan sekadar untuk hari ini, bukan hanya untuk bahagia sesaat, tetapi proyek panjang menuju ridha Allah dan surga-Nya. Jika visi pernikahan sudah jauh ke depan—hingga akhirat—maka masalah duniawi akan terasa ringan.
Karena itu, jaga pernikahan sebagai amanah, bangun dengan ketakwaan, rawat dengan kesalehan, dan arahkan menuju jannah. Semoga setiap rumah tangga yang dibangun di atas iman benar-benar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, hingga kelak dipertemukan kembali di surga Allah ﷻ.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn..
_________________
Catatan : Artikel ini dikembangkan dari Ceramah KH. Hafidz Abdurrahman Ma. Di channel YouTube beliau saat mengisi acara pernikahan


Posting Komentar
0Komentar