Opini oleh : Abu Al Ghazali
Jika kita membaca sejarah panjang konflik Gaza, sulit untuk tidak melihat pola yang berulang: Amerika Serikat tampil sebagai mediator, namun pada saat yang sama tetap menjadi sekutu strategis utama Israel.
Di sinilah letak paradoksnya.
Sebuah mediator idealnya netral. Namun Amerika bukan hanya mediator; ia juga pemasok utama bantuan militer Israel, pelindung diplomatiknya di forum United Nations, dan aktor yang secara konsisten menggunakan hak veto untuk menggagalkan resolusi yang merugikan Israel.
Jika dalam sebuah “Board of Peace” atau forum perdamaian Israel diundang sebagai mitra inti tanpa adanya tekanan struktural terhadap kebijakan militernya di Gaza, maka forum tersebut sejak awal telah kehilangan kredibilitas moral.
Bukti 1: Perlindungan Diplomatik di PBB
Amerika Serikat berulang kali menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk menghalangi resolusi yang menyerukan gencatan senjata permanen atau mengecam tindakan militer Israel.
Jika tujuan utamanya murni perdamaian, mengapa mekanisme internasional yang menekan penghentian kekerasan justru diblokir?
Ini menunjukkan bahwa stabilitas strategis Israel lebih diprioritaskan daripada tekanan keadilan bagi warga Gaza.
Bukti 2: Bantuan Militer yang Konsisten
Amerika setiap tahun memberikan bantuan militer miliaran dolar kepada Israel. Dukungan ini tidak berhenti bahkan ketika eskalasi di Gaza menyebabkan krisis kemanusiaan besar.
Sebuah “Board of Peace” yang berjalan beriringan dengan suplai senjata pada salah satu pihak sulit dipandang sebagai instrumen netral. Ini menciptakan kesan kuat bahwa perdamaian yang diinginkan adalah perdamaian versi kepentingan Amerika—yakni stabilitas regional yang mengamankan sekutunya.
Bukti 3: Normalisasi Kawasan sebagai Prioritas
Di era pemerintahan Donald Trump, lahir kesepakatan yang dikenal sebagai Abraham Accords. Fokusnya adalah normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab.Namun persoalan inti Palestina tidak terselesaikan. Artinya, orientasi diplomasi Amerika lebih condong pada arsitektur geopolitik kawasan (membentuk blok strategis melawan Iran, memperkuat posisi Israel), bukan pada penyelesaian akar konflik Gaza.
Bukti 4: Ketimpangan dalam Struktur Dialog
Jika dalam suatu forum perdamaian Israel diundang sebagai anggota utama, sementara representasi Palestina tidak memiliki posisi tawar setara—maka forum tersebut bukan arena negosiasi adil, melainkan forum legitimasi kebijakan yang sudah berjalan. Perdamaian yang lahir dari ketimpangan struktural bukanlah resolusi, melainkan pembekuan konflik.
Ambisi Global Amerika
Amerika bukan hanya memikirkan Gaza. Ia memikirkan:
*Stabilitas jalur energi
*Dominasi pengaruh di Timur Tengah
*Kompetisi global dengan Rusia dan Tiongkok
*Keamanan sekutu strategisnya
Dalam konteks ini, Gaza sering menjadi variabel dalam kalkulasi geopolitik yang lebih besar.
Jika “Board of Peace” benar-benar bertujuan menciptakan perdamaian sejati, maka seharusnya:
*Ada tekanan nyata terhadap pelanggaran hukum humaniter
*Ada penghentian bantuan militer selama konflik aktif
*Ada pengakuan serius terhadap hak politik Palestina
Tanpa itu, forum tersebut lebih tampak sebagai instrumen manajemen konflik untuk menjaga citra Amerika sebagai “penjaga stabilitas,” bukan penyelesai akar persoalan.




Posting Komentar
0Komentar