Sayyidina Husain Alaihissalam pernah bertanya kepada ayahandanya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah, mengenai sikap dan kepribadian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan penuh kebijaksanaan, Sayyidina Ali menjelaskan akhlak mulia Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:
Sifat dan Kepribadian Rasulullah SAW
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَائِمَ الْبِشْرِ، سَهْلَ الْخُلُقِ، لَيِّنَ الْجَانِبِ، لَيْسَ بِفَظٍّ، وَلَا غَلِيظٍ، وَلَا صَخَّابٍ، وَلَا فَحَّاشٍ، وَلَا عَيَّابٍ، وَلَا مَدَّاحٍ، يَتَغَافَلُ عَمَّا لَا يَشْتَهِي، وَلَا يُؤَيِّسُ مِنْهُ رَاجِيَهُ، وَلَا يُخَيِّبُ فِيهِ.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa ceria, berakhlak lembut, dan bersikap ramah. Beliau tidak pernah kasar, keras, berteriak, atau berkata kotor. Beliau juga tidak suka mencela atau memuji secara berlebihan. Beliau berpura-pura tidak tahu terhadap hal yang tidak disukainya, namun tidak pernah membuat orang yang berharap kepadanya putus asa, dan tidak pernah mengecewakan siapa pun yang datang kepadanya.
Menjaga Diri dari Tiga Hal
قَدْ تَرَكَ نَفْسَهُ مِنْ ثَلَاثٍ: الْمِرَاءِ، وَالْإِكْثَارِ، وَمَا لَا يَعْنِيهِ
Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjaga dirinya dari tiga hal: perdebatan yang tidak perlu, perilaku berlebihan, dan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.
Menjaga Hubungan dengan Manusia
وَتَرَكَ النَّاسَ مِنْ ثَلَاثٍ: كَانَ لَا يَذُمُّ أَحَدًا وَلَا يَعِيبُهُ، وَلَا يَطْلُبُ عَوْرَتَهُ، وَلَا يَتَكَلَّمُ إِلَّا فِيمَا رَجَا ثَوَابَهُ
Beliau juga menjaga hubungan dengan manusia dengan tiga prinsip: tidak mencela atau menjelek-jelekkan siapa pun, tidak mencari-cari aib orang lain, dan hanya berbicara tentang hal-hal yang diharapkan mendatangkan pahala.
Ketika Berbicara dan Mendengar
وَإِذَا تَكَلَّمَ أَطْرَقَ جُلَسَاؤُهُ، كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِهِمُ الطَّيْرُ، فَإِذَا سَكَتَ تَكَلَّمُوا، لَا يَتَنَازَعُونَ عِندَهُ الْحَدِيثَ، مَنْ تَكَلَّمَ عِندَهُ أَنْصَتُوا لَهُ حَتَّى يَفْرُغَ.
Ketika Rasulullah berbicara, para sahabatnya diam menunduk penuh hormat, seolah-olah ada burung di atas kepala mereka. Mereka baru berbicara setelah beliau selesai. Di hadapannya, mereka tidak saling memotong pembicaraan, dan mendengarkan dengan penuh perhatian hingga pembicara selesai.
Menghargai Perasaan Orang Lain
حَدِيثُهُمْ عِنْدَهُ حَدِيثُ أَوَّلِهِمْ، يَضْحَكُ مِمَّا يَضْحَكُونَ، وَيَتَعَجَّبُ مِمَّا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ.
Perbincangan di hadapan Rasulullah seperti perbincangan orang pertama di antara mereka. Beliau tertawa bersama apa yang mereka tertawakan dan menunjukkan kagum terhadap apa yang membuat mereka kagum, menunjukkan kepekaan dan kedekatan dengan perasaan mereka.
Kesabaran terhadap Orang Asing
وَيَصْبِرُ لِلْغَرِيبِ عَلَى الْجَفْوَةِ فِي مَنْطِقِهِ وَمَسْأَلَتِهِ، حَتَّى إِنْ كَانَ أَصْحَابُهُ لَيَسْتَجْلِبُونَهُمْ. وَيَقُولُ: إِذَا رَأَيْتُمْ طَالِبَ حَاجَةٍ يَطْلُبُهَا فَأَرْفِدُوهُ، وَلَا يَقْبَلُ الثَّنَاءَ إِلَّا مِنْ مُكَافِئٍ، وَلَا يَقْطَعُ عَلَى أَحَدٍ حَدِيثَهُ حَتَّى يَجُورَ، فَيَقْطَعَهُ بِنَهْيٍ أَوْ قِيَامٍ.
Rasulullah bersabar menghadapi orang asing yang mungkin bersikap kasar atau kurang sopan dalam ucapan dan permintaannya. Bahkan, para sahabat sering kali mendatangkan orang-orang tersebut untuk bertemu beliau. Rasulullah bersabda, “Jika kalian melihat seseorang yang meminta sesuatu, tolonglah dia.” Beliau tidak menerima pujian kecuali dari orang yang sepadan dalam kebaikan, dan tidak memotong pembicaraan seseorang kecuali jika melampaui batas, maka beliau menghentikannya dengan larangan atau dengan meninggalkan tempat.
Perhatian kepada Setiap Orang
وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِي كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ جُلَسَائِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّهُ مِنَ الِالْتِفَاتِ إِلَيْهِ وَالْعِنَايَةِ بِهِ، حَتَّى يَظُنَّ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ أَنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian penuh kepada setiap sahabat dan teman duduknya. Beliau memandang mereka dengan penuh kelembutan, sehingga setiap orang merasa bahwa dialah yang paling dicintai oleh Rasulullah.
Penutup
Riwayat ini bersumber dari Kitab Asy-Syamail karya Imam Tirmidzi, sebagaimana dikutip oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghudah dalam Ar-Rasul Al-Mu’allim wa Asalibuhu fi At-Ta’lim. Akhlak mulia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan sempurna bagi umat manusia. Semoga kita semua dapat meneladani sifat-sifat luhur beliau dalam kehidupan sehari-hari.


Posting Komentar
0Komentar