Ada masa dalam hidup ketika dunia terasa begitu sempit. Hati sesak, langkah berat, dan harapan seolah pupus. Segala usaha sudah dicoba, tapi hasil tak kunjung tampak. Di saat seperti ini, banyak orang merasa sendiri dan nyaris putus asa.
Namun seorang Muslim diajarkan untuk tidak berpijak hanya pada realita dunia. Hidup bukan sekadar soal rezeki, jabatan, atau sanjungan manusia, melainkan tentang hubungan kita dengan Allah Subḥānahu wa Taʿālā. Ketika dunia menyempit, bisa jadi Allah sedang mengundang kita untuk kembali kepada-Nya, memohon, dan bertawakal.
Allah Ta'ālā berfirman:
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًۭا • وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(QS. At-Thalaq: 2–3)
Dalam ayat ini, ketakwaan adalah kunci. Saat hati bertakwa, sempitnya dunia tak akan menghancurkan jiwa. Bahkan dari titik terendah itulah Allah bukakan jalan yang tak disangka.
Nabi ﷺ pun pernah merasakan kesempitan. Di Thaif beliau disakiti dan diusir. Di Makkah beliau diboikot dan difitnah. Namun beliau tidak menyerah. Dalam setiap kesulitan, Rasulullah ﷺ senantiasa berdoa:
ٱللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى ٱلنَّاسِ
"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, kurangnya usahaku, dan hinanya aku di mata manusia."
(HR. Thabrani dalam Mu'jam al-Kabir, dari Ibnu Ja‘far)
Kembalilah ke sajadah. Sampaikan segala sesak kepada Allah dalam sujudmu. Di sanalah tempat terdekat antara hamba dan Rabb-nya.
Ibnul Qayyim rahimahullāh mengatakan:
"رُبَّمَا أَغْلَقَ اللَّهُ سُبُلَ الدُّعَاءِ حَتَّى يَسْمَعَ تَضَرُّعَكَ"
"Terkadang Allah menutup pintu-pintu doa agar Dia mendengar rintihan dan harapanmu."
(Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin )
Sempitnya dunia kadang adalah cara Allah memperhalus jiwa. Agar tidak sombong, agar tidak lalai, agar tidak terlena pada dunia. Karena dunia hanyalah ujian, sedangkan akhirat adalah negeri abadi.
Allah Subḥānahu wa Taʿālā berfirman:
مَّنْ كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا مَذْمُومًۭا مَّدْحُورًۭا • وَمَنْ أَرَادَ ٱلْءَاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌۭ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًۭا
"Barang siapa menghendaki kehidupan dunia yang segera, niscaya Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang dia beriman, maka usaha mereka itu akan diterima dengan baik."
(QS. Al-Isra’: 18–19)
Maka, saat dunia terasa sempit, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Bahkan di saat paling kelam, pertolongan Allah sangat dekat.
فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا • إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًۭا
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Dunia boleh sempit, tapi rahmat Allah seluas langit dan bumi. Dan hanya orang-orang beriman yang akan menemukan cahaya di tengah gelapnya ujian.
وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang beriman."
(QS. Ali Imran: 139)
Wallāhu waliyyut-tawfīq.
---

.jpeg)
Posting Komentar
0Komentar